Kamis, 14 Mei 2020

Kritis VS Nyinyir

Selamat pagi sobat blogger,

Corona semakin merajelala, tiap tempat, tiap negara, tak pandang kasta, tak peduli usia. Siapapun, dimanapun, sangat mungkin tertular virus ini.
Ribuan nyawa di seluruh dunia.
Mengerikan bukan?

Saya bukan ahli per Virusan, dan tidak dalam kapasitas saya membahasnya.
Namun, yang menggelitik saya di saat Corona makin menggila, justru perilaku sebagian orang di sekitar kita, baik kita kenal maupun tidak.

Coba cek, berapa banyak grup WA yang Anda punya? Atau cek akun-akun socmed yang Anda miliki.
Banyak bukan?
Dan apa postingan terbanyak?

Yess,,,,tiba-tiba, di setiap Grup di socmed, muncul para "ahli" dadakan, ahli komen, ahli repost, dengan analisis-analisis luarbiasa, yang kadang lebih banyak menjurus ke hoaks, memelintir informasi yang sesungguhnya, bahkan tak jarang menjurus fitnah dan pencemaran nama baik.

Pernah orang-orang seperti ini di tegur oleh admin grup? Atau oleh sesama member grup?
Tentu pernah, sering bahkan dikeluarkan dari grup
Tapi jawaban atau bantahan, tepatnya alibi mereka atas apa yang mereka lakukan adalah : "kok, orang berusaha kritis malah dilarang-larang, malah dibatasi, malah diintimidasi?"

Hhhhmmm ........

Disinilah letak masalahnya.
Orang sering tidak sadar bagaimana membedakan, memilah dan memilih komentar.
Kritis versi mereka belum tentu seperti yang dimaknai orang lain.

Ada benang merah yang sangat jelas antara sikap kritis dan nyinyir.

Sikap kritis akan ditandai dengan pemahaman dan daya analisis yang tinggi. Seseorang dikatakan kritis, jika sebelumnya dia sudah menempuh langkah-langkah untuk memahami suatu permasalahan, menelaahnya dengan sangat mendalam, membuat simpulan dengan berbagai pertimbangan. Dan yaaa ... Ciri utama yang menjadi pembeda telak antara si kritis dan si nyinyir adalah kemampuan dalam memberikan solusi atas suatu permasalahan berdasarkan hasil telaahnya.

So ... bagaimana dengan si nyinyir?
Hmmmm
Sudah pasti berbanding 180° dari si kritis.
Bagi si nyinyir, yang penting dia bisa ngomong, serang sana serang sini, sindir ini sindir itu, salahkan hal ini salahkan hal itu. Kata-katanya hebat meroket setinggi lain, tapi kosong dari makna. Dan ketika ditanya balik, menurutmu bagaimana atau harus seperti apa???
Maka dapat dipastikan dia akan ngeles dengan beribu argumen, so that why si nyinyir tuh akan identik penggombal, pembual alias omong doang.

Sobat blogger,
Semoga kita tidak termasuk kelompok nyinyir ini ya?
Jika tidak bisa memberikan komentar yang baik, apalagi memberi solusi, diam adalah pilihan yang sangat bijak.

Selamat beraktivitas
Semoga sehat sejahtera bagi kita semua, dan bencana ini segera berlalu.


"15052020"