Senin, 27 Januari 2020

Karena Kata-Kata adalah Doa

Pagi yang selalu seperti ini
Dengan segala hiruk pikuk, drama, dan ketergesa-gesaan.

Masih dengan nafas yang belum lagi teratur dengan benar, peluh yang bercucuran,,,,,,,

Sebuah kalimat pengumuman samar terdengar. 

Deg ..... 
Sejenak nafas tertahan, 
Diam dalam kebingungan

Sejurus kemudian,,,
IT'S OK, tarik nafas dalam dan hadapi semua dengan lapang dan keyakinan.

Pengumuman itu adalah pemberhentian dari tugas lama, dan pemberian tugas baru. Yang kalo boleh jujur, kedua-duanya tidak saya harapkan akan diberikan dipundak saya.
Bahkan saya berdoa dan berdoa agar dibebaskan dari tugas tersebut, karena pada saat ini kondisi kesehatan yang sedang tidak memungkinkan.

Dan .... Doa saya memang terkabul, tugas lama dilepaskan. Namun, saya lupa berdoa dengan lengkap (hehe), tidak berdoa agar tidak diberikan tugas baru lainnya. 

Tapi .... Inilah konsekuensi sebagai abdi negara yang harus saya emban secara ksatria. Siap tidak siap, mau tidak mau, tugas ini akan dan harus saya jalani dengan semaksimal kemampuan yang saya miliki.

Dan ternyata ,,, doa saya pun rupanya salah. 
Seseorang memberikan nasihatnya, berdoalah agar Allah swt menambah, menaikkan derajat dan kapasitas kemampuan kita, bukan meminta sebaliknya.

Pundak yang dirasa tidak akan mampu menopang beban-beban itu, sesungguhnya hanya akan semakin membebani. Tapi ubahlah pola pikirnya, sehingga beban itu menjadi ringan terasa.

Lantas apa yang saya perbuat?

Mundur selangkah ke belakang, berdiam sejenak, ambil jeda beberapa saat.
Daaaan,,, logika pun mulai kembali berjalan normal

Selembar kertas, pulpen, laptop dan lainnya segera begitu bersahabatnya. Coretan-coretan kecil, coretan sederhana, mengalir tertuang dengan begitu naturalnya.
Beban yang tadi terasa begitu menyesakkan perlahan pergi menjauh, berganti sebuah keyakinan bahwa apapun akan bisa dihadapi dan dijalani.

Just Do the Best
Just Do the right thing
Keep Stay on the right way


#bakar semangat diri sendiri, karena menunggu datang pemberi motivasi, hanya akan membuatmu terjebak dalam ketidakpastian.
#ambil langkah terkecil dan tersederhana, namun mampu kau wujudkan
#lakukan sekarang, atau tidak sama sekali
#abaikan cela cemooh atau puji basa basi
#Yang Maha Kuasa tempatmu meminta, untuk segala harap dan asa

@mejakosongku, 28012020


Jumat, 24 Januari 2020

Tips Jitu Halau Galau

IT'S OK 

Entah apa yang merasukiku
Berselimut sepi, tetiba tangan meraih hp dan jari jemari tak dapat ku larang, asik mengetikkan kata demi kata yang menyeruak berkelebat dalam angan.

IT'S OK, inilah kata yang tiba-tiba terucap dan byaarrrr,,,,,,ambyar pun seketika buyar.

IT'S OK, jika kamu sedang sedih
IT'S OK, jika kamu pernah terluka atau melukai
IT'S OK, jika kamu pernah mencintai, dicintai dan sekarang kehilangan
IT'S OK, jika kamu merasa dikhianati, atau mengkhianati
IT'S OK, jika hidupmu tak semanis yang kau impikan
IT'S OK, jika keluargamu tak sesempurna yang kau dambakan
IT'S OK, jika nilai ujianmu sering kacau balau
IT'S OK, jika dirimu tak sehebat yang kau harapkan
IT'S OK, jika rencanamu tak satupun yang mampu kau wujudkan

IT'S OK, IT'S OK .......................

Coba ucapkan kata itu, saat kamu merasa apa yang terjadi tak semestinya terjadi, jika apa yang kau alami bukanlah sesuatu yang kau inginkan.

Kemudian tutup mata, tarik nafas dalam, very deeply ... Again and again. Tetaplah seperti itu, diam dalam hening. Katakan IT'S OK untuk semua hal yang kau alami.

Buka matamu pelaaan sekali
Biarkan bulir-bulir bening menyusuri pipi
Mengaliri relung hati
Biarkan embun-embun hangat itu membersihkan semua luka hati, kecewa dan harapan-harapan hampa

Dan heyyy .... Kamu punya dua tangan, jangan menunggu tangan lain menyekanya.
Segera hapus tetes-tetes bening disudut matamu dengan kedua tanganmu sendiri.

Karena sejatinya, IT'S OK yang kamu ucapkan tadi bukanlah sebuah kepasrahan tanpa arti, tapi dia adalah sebuah janji pada diri, bahwa tak apa dengan semua yang terjadi dan kamu alami, tapi OK aku siap memperbaiki, OK aku mampu berdiri, OK aku akan melakukan semua yang terbaik, OK aku tak kan menangisi yang tak semestinya ku tangisi.

Dan dibalik semua ini, 
Yakini dengan segenap hati
Ada Illahi yang tak kan pernah meninggalkanmu saat kamu terus mendekatkan diri
Teruslah mendekatkan diri, mendekatkan diri
Hingga tak ada lagi duri yang mampu lukai hati, dan batasi langkah kaki
Teruslah mendekatkan diri, mendekatkan diri
Hingga hadir dirimu yang baru
Hadapi hari dengan segala keyakinan diri
Kamu mampu lewati semua ini

Salam Pagi ... 25012020

Senin, 13 Januari 2020

Kuota oh Kuota

Sumber : id.aliexpress.com

Menikmati gambar di atas, yang saya rasakan adalah kesejukan, keheningan, kedamaian, kesegaran, rasa yang nyaman, bahagia, bebas, lepas. 
Adakah sama yang Anda rasakan?

Ya, alam selalu menjadi penyeimbang yang hebat bagi jiwa-jiwa lelah dan gundah. Ditengah terpaan badai kehidupan, tuntutan dunia kerja yang begitu ekstrem, masalah-masalah pribadi, masalah-masalah sosial, masalah-masalah rumah tangga, tuntutan kebutuhan hidup, semua menjadi paduan sempurna untuk menjungkirbalikkan kondisi seseorang dan terjebak dalam kondisi emosi yang tidak terkendali.

Coba bayangkan, sesubuh-subuh fajar belum lagi menyingsing, masing-masing kita sudah terburu-buru bersiap ke tempat bekerja, lupa banyak hal, abaikan segalanya, demi mengejar sesuatu bernama absen online, kuota pun tak pernah luput diperiksa dan selalu terisi full. Cukup sampai disana?
Tidak, rencana kerja, laporan pegawai, hasil evaluasi, penilaian teman sejawat, input data kepegawaian, semua online, semua memakai kuota, dan semua selalu menjadi prioritas perhatian kita.  Lantas, kita kembali ke rumah di sore bahkan malam hari, dengan kelelahan yang luar biasa, dan masih dijejali dengan berbagai pekerjaan. Dan semua kuota oh kuota.

Lalu, pernahkah merenung
Seperti itukah kita berupaya mengisi kuota kita ketika menghadap Allah swt dalam shalat-shalat kita, dalam tilawat-tilawat kita, dalam dzikir-dzikir kita?

Tidak, saya tidak, entah Anda.
Saya lebih banyak melalaikan kuota yang seharusnya saya perhatikan, saya pedulikan dan saya isi full lebih dari apapun.

Maka pantas rasanya, jika diri ini masih dan masih saja diterpa kegundahan, diterpa kegelisahan, kekecewaan, dan keruwetan tiada akhir.
Maka pantas rasanya, jika sampai detik ini, nyaman dan damai itu entah kemana berlalunya.
Maka pantas rasanya, jika hingga saat ini, masih sulit menemukan jati diri sesungguhnya.

Semoga ini menjadi refleksi bagi diri saya sendiri.

Maafkan hambaMu ya Rabb ....


Rumahku, 14012020