Jumat, 27 Desember 2019

Sepi di Keramaian

Libur tlah tiba, libur tlah tiba hore hore horeeeee ...

Hilir mudik, lalu lalang, tawa ceria, saling bercengkrama, bersuka ria,
Semua nampak jelas depan mata
Pemandangan di sebuah arena wisata, di musim libur akhir tahun kali ini.

Menyenangkan melihat setiap orang bersuka cita bersama mereka yang terkasih dalam hidupnya.

Tapi .........
Apa yang terjadi dengan diri saya?
Hampa,
Kosong,
Sepi,

Tidak sedikit pun saya bisa menikmati suasana di tempat wisata ini.

Sunyi,
Seperti ada yang hilang
Dan tak terasa
Titik air menggenang di pelupuk mata

Sungguh!!!
Hati, jiwa dan pikiran saya sangat sangat tidak ingin ada di tempat ini

Saya ingin ada di suatu tempat lain
Menyendiri,
Bukan dalam keramaian
Bukan di hiruk pikuk dunia

Entah apa yang sedang ingin saya temukan
Tapi ada rasa sakit yang menyayat
Perih
Tak terkira
Mengiris hingga relung hati terdalam


@dibawah kaki gunung guntur, 27 Desember 2019




Selasa, 17 Desember 2019

Hikmah Sakit


Aroma Rumah Sakit, kini sudah mulai akrab di penciuman saya. Karena apa?
Berpuluh kali sudah saya harus menjalani rawat inap, berpuluh kali juga bolak balik untuk rawat jalan. Karena suatu penyakit, mau tidak mau, saya jalani semua pengobatan yang menyakitkan itu. Tusukan jarum demi jarum, sudah tak membuat takut, sudah hampir tak terasa sakit. Jika nadi-nadi ini bisa bicara, mereka akan kebingungan sudah berapa banyak jarum yang melukai mereka. 

Padahal .... Konon dahulu kala, semasa kanak-kanak, kata orangtua saya, jika sakit dan dibawa ke dokter, atau pernah ada petugas kesehatan yang ke rumah untuk mengobati, saya pasti akan melarikan diri dan sembunyi dimanapun bisa. Pokoknya tidak ketemu dokter apalagi harus di suntik. Jika tidak berhasil sembunyi maka saya akan menangis sejadi-jadinya, sampai si dokter tak kuasa untuk memberikan suntikan, dan hanya memberikan obat saja🙈. Alih-alih di minum, obat-obat itu pun seringnya melayang ke tempat sampah, tanpa ada yang tau. Kecuali, orangtua yang langsung memberikannya, terpaksa obat-obat itupun harus ditelan. 

Dan kini, cerita masa kecil itu tak lagi mungkin saya perbuat. Selain malu pastinya, hehe
kondisi kesehatan saya yang memang kurang baik, mengharuskan saya menjalani beberapa pengobatan.

Pernah muncul rasa kecewa, kenapa sih dari kecil saya sering sakit? Kenapa sih ga kayak orang-orang lain?
Lelah rasanya dengan beragam suntikan dan bermacam-macam obat yang harus dikonsumsi.

Namun ...
Nasehat baik itu datang menghampiri
Dari sebuah buku, dari obrolan bersama orang lain, saya pada akhirnya harus bersyukur.
Di luar sana, diberbagai sudut dunia, teramat banyak orang yang menderita sakit yang lebih, dan belum tentu mereka mampu mendapatkan pengobatan yang layak.

Bersyukur, karena dengan sakit, saya lebih berhati-hati menjalani hidup.
Saya lebih menghargai tiap detik yang Allah Taala karuniakan.

Dan satu keyakinan pasti, bahwa Allah Taala tidak semata-mata memberikan ujian sakit ini jika saya tidak mampu memikulnya.

Dari sakit inilah saya belajar tentang sabar, tentang ikhlas, tentang pasrah, tentang menghargai, tentang memahami.

Pamulang, 18 Desember 2019



Minggu, 08 Desember 2019

Labirin Kehidupan

Belajar dari Jejak-Jejak Kecil


Yyeeeyyyy ,,,,, aku yang pertama, berhasil berhasil berhasil!!!!! 
Sorak riang itu terdengar nyaring. Itu adalah ekspresi kegembiraan dari putri ke-2 kami yang berhasil menemukan jalan keluar di sebuah Labirin.

Lain hal nya dengan putri sulung kami, dia nampak biasa saja (istilah anak-anak milenial B aja) walaupun sama berhasil menemukan jalan keluar dari Labirin tersebut. Apalagi si bungsu, cuma melongo kebingungan melihat kakak-kakaknya yang berseliweran berlari-lari dalam Labirin itu.

Saya, mengamati tingkah anak-anak dari kejauhan, sambil mengabadikan momen ini.

Sambil duduk berteduh di pojok areal bermain ini, saya putar lagi rekaman tingkah polah anak-anak. Lama, termenung, saya temukan sebuah pelajaran. 
Bagi anak-anak, wahana ini tak lebih dari sebuah permainan saja. 

Tapi tidak bagi saya. Labirin ini benar-benar memberikan gambaran tentang kehidupan yang kita jalani. Berliku, penuh teka-teki, sulit ditebak, penuh dengan halang rintang, tantangan. 
Dan apa yang dilakukan oleh anak-anak, sesungguhnya mencerminkan pola tindakan kita dalam melalui hidup.

Lihatlah putri ke-2 kami, yang begitu antusias, penuh semangat, berupaya menemukan jalan keluar dari Labirin, meski mentari sangat terik saat itu, cucuran keringat dan nafas tersengal nampak kentara, berulang-ulang dia harus kembali ke belakang, melihat-lihat arah jalan, berlari kecil, terdiam sejenak memikirkan ke arah mana langkah akan diteruskan, kadang terlihat serius, kadang tertawa lepas, senang menemukan jalan, kadang menertawakan kesalahannya sendiri ketika yang dia jumpai adalah jalan buntu, kadang nampak kesal karena berkali-kali gagal.

Begitulah sebagian kita menyikapi apa yang dihadapi. Liku-liku hidup, rintangan, hambatan, bisa dihadapi dan diselesaikan jika semua dijalani dengan penuh antusias, semangat dan keyakinan, meski ditengah perjalanan, kita pasti menghadapi saat-saat begitu lelah, kehilangan semangat, bahkan putus asa. Tapi bagi para pejuang tangguh, akan selalu menemukan kembali jati dirinya, melawan segala kesulitan dan pada akhirnya dialah sang pemenang, yang dengan bahagia bersorak untuk segala perjuangan yang dilaluinya.

Lain cerita dengan putri sulung kami, meski sama-sama berhasil menemukan jalan keluar dari Labirin, tapi ekspresinya datar. Kenapa? 
Karena bagi dia, Labirin ini ga memberikannya tantangan berarti, terlalu mudah ditaklukan. Untuk anak seusianya, mungkin menginginkan Labirin yang lebih besar dan rumit.
Begitulah kita. Ketika dihadapkan pada sesuatu yang mudah, tidak akan atau sedikit sekali daya juang yang akan ditampakkan. Bahkan akan cenderung berleha-leha, bersantai. Maka, jangan pernah bahagia ketika dihadapkan pada berbagai kemudahan, karena diri Anda tidak akan ditempa untuk sebuah kerja keras, Anda tidak akan paham arti menghargai pengorbanan, sebuah proses panjang pencapaian, dan disisi lain, Anda akan mudah dikalahkan.
Lihatlah, hidup tanpa tantangan tidak akan memberikan dampak apa-apa meskipun Anda berhasil atas sebuah pencapaian. Semua terasa Biasa saja. 
Dan sejatinya, manusia membutuhkan tantangan yang lebih, untuk terus mengasah kemampuannya. 

Nah, si bungsu?
Belum paham dengan apa yang terjadi. Hanya melongo kebingungan melihat tingkah polah kakaknya. Bahkan menangis dalam ketidakmengertiannya.
Adakah diantara kita yang sering melongo? Hanya bisa melongo? Tak tau, tak mengerti dengan apa yang terjadi? Tak mengerti apa yang harus dilakukan?
Mungkin ada.
Mungkin juga saya pernah berada pada situasi seperti itu. Dimana merasa begitu bingung, tidak paham dengan apa yang sesungguhnya terjadi, apa yang seharusnya dilakukan.
Menangis seperti bayi yang kebingungan?

Ya, ada masa dimana semua situasi dalam Labirin tadi pernah kita hadapi. Itulah sejatinya kehidupan.

Tidak ada sorak gembira atas sebuah kesuksesan yang diraih dengan mudah. Yakinlah, hanya mereka dengan naluri pejuang tangguh lah yang layak menerimanya.


Sudut Sekolah, 9 Desember 2019

Untuk putra-putriku, untuk siswa-siswiku,
Selamat berjuang
Jadikan hidup kalian berarti

Sabtu, 07 Desember 2019

Rindu Kesederhanaanmu

Pantai Lawata Kota Bima Nusa Tenggara Barat

Ahhh ...... Hujan senja ini
Kembali mengusik hati
Membongkar kenangan demi kenangan yang pernah dan akan tetap singgah di hati

15 tahun lalu, kami pernah disini, 
Menikmati debur kecil ombak pantai ini
Menghirup semilir angin, mengecap asin air laut, dan bermain dengan lembutnya pasir pantai bernama Lawata.

Tidak pernah terbayang, bahwa kami pernah ada di tempat ini
Ribuan mil jaraknya dari Kota kelahiranku
Dan juga tidak pernah terbayang, jika kenangan disini akan begitu berat melekat dalam ingatan.

Bima Nusa Tenggara Barat, 
Kampung Pane Kelurahan Nae, itulah nama kampung tempat kami tinggal, sebagai perantau, untuk suatu tugas mulia yang diembankan di pundak kami.
Kampung ini akan selalu lekat dalam ingatan, karena kampung inilah yang menyambut kami begitu ramahnya, sejak pertama jejak kaki memasuki gang kecil, menuju sebuah rumah kontrakan sangat sederhana, sebuah rumah yang hampir belum sempurna jadi.
Ada nenek umi, bibi luly, umi asni dan keluarga, mbak dewi dan keluarga, dan banyak lagi warga gang ini, yang seolah ada yang mengomando, beramai-ramai menemui kami, menyambut dan menerima kami sebagai warga baru mereka, keluarga baru mereka.

Kecemasan yang semula menghantui pikiran, akan seperti apa negeri rantau tempat ku nanti? Hilang sirna menguap bersama peluk sambut penuh kehangatan.
Kutemukan keluarga baru, itu yang kurasakan saat itu.
Dengan sangat mudah, aku mampu berbaur dan beradaptasi. Berada di rantau tak lagi ada rasa galau.

Ah kalian ... Saudara-saudaraku diujung pulau Sumbawa
Entah kapan bisa ku peluk lagi kalian
Hanya ucap terimakasih yang bisa ku sampaikan
Kalian semua telah mengajarkanku tentang Indonesia, yang berbeda, namun kekeluargaan, keramahan, kehangatan, simpati, empati, rasa kebersamaan, telah menepis semua perbedaan, yang ada adalah kita satu keluarga.

Kalian telah mengajarkanku arti penerimaan yang sesungguhnya, tak peduli latar belakang asal, budaya dan apapun juga

Kalian, orang-orang sederhana yang tinggal ribuan mil dari Ibu Kota Negara,
Tapi dari kalian lah gambaran Indonesia itu ada.

Terimakasih saudara-saudaraku tercinta
Kampung Pane Nae, Kalampa, Paradorato, Bima
Akan selalu ada di hati kami.


Kota Intan, 7 desember 2019

Kamis, 05 Desember 2019

Dicari, Sang Penggerak

Sang Penggerak

Siapakah gerangan sang penggerak itu?


GURU,
Sang Penggerak itu bernama GURU, dan Bapak Menteri kita sedang mencari GURU, tidak banyak yang dicari, hanya 1 orang Guru dari tiap sekolah. Tapi bukan sembarang Guru yang dicari, melainkan Guru Penggerak.

Siapakah Guru Penggerak itu?
Menurut Bapak Menteri, Guru Penggerak itu :

1. Biasanya sedikit nakal 😁

Lho lho lho, Pak Menteri kok cari Guru yang sedikit nakal ya?
Jangan parno dulu!
Seorang penggerak, seorang pioneer, seorang pemikir, biasanya memang akan terdeteksi sebagai seorang yang nakal, karena pemikiran-pemikirannya, tindakan-tindakan yang diambilnya berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Dia sudah bisa keluar dari zona nyaman (out of the box), bahkan sering, muncul sebagai "penentang" kebijakan-kebijakan yang dirasa tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu, orang-orang dengan tipe penggerak ini sering dianggap nyeleneh bahkan aneh.

2. Sering Berinovasi Membuat Kurikulum dan Metode Sendiri di kelasnya

Nah, ciri kedua dari Guru Penggerak yang dicari Pak Menteri adalah sering berinovasi, melahirkan ide-ide baru, terobosan-terobosan baru. Lantang menyuarakan perubahan, sigap menyikapi perubahan. Gaya mengajar di kelasnya tidak monoton. Selalu upgrade kemampuan dan pengetahuan. Memikirkan cara-cara terbaik dan terefektif untuk membelajarkan siswa-siswanya. Tidak alergi dengan sebuah temuan baru, tidak pandang sebelah mata pada kawan sejawat yang baru, tidak ragu untuk berbagi ilmu, saling membantu sesama guru. Ketika sebuah metode sudah tak mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan belajar anak didiknya, maka Guru Penggerak tak ragu untuk terus menimba ilmu, mengasah diri, dan mempraktekkannya di kelas-kelas yang dibimbingnya.
Kadang pada saat itu, pemikiran dan metode mengajarnya tak bisa diterima, dihina, ditolak.
Namun, pada saatnya, orang-orang akan mulai mengganggukan kepala tanda setuju dan mulai meniru.

3. Jarang mendapat apresiasi

Yess, ciri lainnya dari Guru Penggerak adalah miskin apresiasi. Baik dari atasan maupun sejawat. Bahkan tak jarang yang diterimanya adalah sebuah cibiran.


Apakah Guru Penggerak itu ada di Republik kita?
Ada? Ada? Ada?
Saya yakin ada
Jika belum ada, mari kita buat Ada

Apakah saya, atau Anda rekan-rekan Guru se-tanah air tercinta memenuhi kriteria di atas?
Bagi saya, "sayembara" Pak Menteri ini menjadi sebuah lecutan, untuk terus berbenah ditengah segala kekurangan dan kelemahan.
Meskipun yang sebenar-benarnya, sudah lelah menghadapi dan menjalani segala tuntutan yang tak bisa dimengerti kemana muara tujuannya.

Semoga Menteri Pendidikan yang masih sangat muda (dibanding saya🙈), berhasil menemukan Guru Penggerak itu, demi kemajuan pendidikan di negeri ini.

Salam sukses bagi para Guru Indonesia.






Rabu, 04 Desember 2019

Sang Waktu

Sang Waktu

Apa yang hendak kau katakan padaku?
Kala temaram senja, kau larutkan aku dalam sendu

Apa yang hendak kau lakukan untukku?
Saat resah mendera, kau tetap pergi berlalu

Apa gerangan yang kau inginkan dariku?
Bila hati bertalu pilu, kau tetap diam membisu

Itukah perlakuanmu padaku wahai sang waktu?

Tak pernah kau hiraukan aku dalam kalutku
Tak pernah kau menungguku dalam kegamanganku
Kau, sang waktu
Terus melaju
Meninggalkan jejak-jejak mengharu biru

Aku, masih tergugu
Tak mampu mengikuti deras lajumu
Aku, masih terpaku
Belum sempat hapuskan kelu
Aku, masih tersedu
Dengan untai harap dan rindu

Dan pada sang waktu,
Kurajut asa baru
Kiranya masih tersisa waktuku
Izinkan aku turut berderap maju
Meraih ridha dan kasih-Mu



Senjabiru, 04 Desember 2019

#Ceritakehidupanbersamasangwaktu

Selasa, 03 Desember 2019

Sifat dan Sikap Keakuan menutup Pintu Kebijaksanaan

Apa yang dimaksud dengan sifat dan sikap keakuan?
Jika diamati dari ilustrasi di atas, keakuan adalah sifat yang menunjukkan rasa yang berpusat pada aku (diri sendiri), sifat yang mementingkan diri sendiri, sifat yang merasa bahwa dirinya pusat segalanya. Jika sifat ini diperlihatkan, ditampakkan, maka jadilah sikap keakuan.

Seseorang dengan sifat dan sikap keakuan, biasanya akan muncul dengan pembawaan yang selalu merasa benar, merasa pintar, merasa sudah bisa, sudah mampu.
Dari sisi positifnya, kita bisa menerima orang-orang seperti ini sebagai orang yang penuh percaya diri, antusias, bersemangat, powerfull.
Tapi, sisi negatifnya, sifat egoisme mengancam diri mereka yang memiliki keakuan ini.

Coba flashback sejenak,
Banyak kejadian di negeri ini, yang mencuat semata-mata karena sikap keakuan, dari beberapa gelintir oknum, apakah dia politikus, tokoh agama, kaum intelektual atau masyarakat awam.
Dan mari renungkan akhir kesudahannya????
Hampir tidak ada kebaikan yang diperoleh. Hanya tumpukan kehancuran, kerusakan, kemalangan. Yang tentu saja, semakin menambah panjang beban pembenahan negeri ini.

Celakanya,
Sifat dan sikap keakuan ini, disadari atau tidak, ada pada setiap diri manusia. 
Hanya saja, ada orang yang mampu mengendalikan dan menempatkan keakuannya dengan proporsional, dan ada yang kebablasan.
Walhasil, mereka yang sukses akan tampil dalam wujud-wujud bijaksana, dari tutur kata, tingkah laku, pemikiran, tindakan dan keputusan-keputusan yang diambilnya.
Sebaliknya, mereka yang gagal mengendalikan dan menempatkan keakuannya, akan lahir menjadi pribadi-pribadi egois, semau gue, saya paling benar, saya paling bisa, saya paling pintar. Dari sinilah awal tertutupnya pintu kebijaksanaan. 
Bagi mereka yang menempatkan keakuan diatas segalanya, akan sangat sulit membuka diri menerima nasihat, saran, masukan, pendapat, argumen, apalagi kritikan atas dirinya.
Apapun yang orang lain sampaikan akan salah di pandangannya. Terlebih, jika yang menyampaikannya adalah orang yang lebih muda, dianggap anak kemaren sore, bawahan rendahan. Jangan harap akan digubris. Semua lewat bak angin lalu.
Padahal, tidak ada jaminan bahwa dia yang lebih tua, pasti lebih bijaksana, tidak pernah ada garansi bahwa atasan akan selalu benar dibanding bawahannya, penguasa akan selalu hebat dibanding rakyatnya.

Sobat blogger,,,
Fenomena ini nyata ada dalam keseharian kita. Mulai dari lingkup terkecil, dari dalam rumah kita, lingkungan tetangga, organisasi, bahkan sampai lingkup kehidupan negara dan dunia.

Lantas, apa yang bisa kita perbuat?
Dimulai dari diri sendiri
Dimulai dari hal terkecil
Dimulai dari sekarang

Belajarlah untuk membuka pintu kebijaksanaan diri dengan merendahkan diri. Merendahkan diri, tak akan membuat kita hina. Merendahkan diri tak berarti kehilangan harga diri. Merendahkan diri hanyalah satu cara sederhana, menekan keakuan dalam diri. Tapi disisi lain, tetap mampu memberikan yang terbaik.

Selamat sore,
Semoga di negeri ini lahir semakin banyak tokoh-tokoh bijaksana

Minggu, 01 Desember 2019

Hakikat Pertemuan dan Perpisahan


Siapa yang bisa memberikan jaminan bahwa di dunia ini hanya ada pertemuan tanpa perpisahan?

Hening ......

Rincik hujan malam ini, tiba-tiba mengusik rasaku
Rasa tentang suatu waktu, dimana diri begitu bahagia dan bersyukur, atas karunia "tempat singgah" yang begitu indah.
Tempat singgah? Ya tempat singgah, karena sudah suatu keniscayaan, bahwa suatu hari, cepat atau lambat, atas sebab apapun, jejak langkah kami tidak akan selamanya ada disini.

Inilah jalan hidup pilihan kami. Jalan hidup yang tidak akan mudah diselami.

Khidmat-e-din(e) ko ek(e) fazel-e-ilahi jano
Ketahuilah, mengkhidmati agama merupakan suatu karunia Ilahi
Us ke badle me kabhi thalib-e-in’am(e) nah ho
Janganlah kalian menuntut suatu hadiah sebagai imbalan

Tempat singgah yang indah ini, suatu saat akan kembali sunyi dari ingatan kami.
Itulah hakikat sesungguhnya. Ada pertemuan, harus bersiap dengan perpisahan, ada awal niscaya akan ada akhir.

Begitupun dunia dan seisinya ini. Tidak akan ada yang kekal abadi. Semua akan kembali ke haribaan Illahi.

Semoga jejak langkah kami di surga kecil ini memberikan sedikit arti.

Anda di tempat ini, akan kembali bersua dengan orang-orang baru, jejak-jejak baru, cara-cara baru dan pencapaian-pencapaian baru.

Begitupun kami, perpisahan ini adalah awal bagi pertemuan baru lainnya. Terhentinya jejak langkah kaki disini, adalah permulaan untuk mengukir jejak baru, harapan baru, semangat baru.


Love For All, Hatred For None

02 Desember 2019