Kamis, 17 September 2020

Dibalik Pandemi Corona, Para Siswa SMK Tetap Berkarya

 Dibalik Pandemi Corona, Para Siswa SMK Tetap Berkarya


Tidak ada seorangpun yang pernah menduga, jika tiba-tiba dunia dilanda malapetaka. Pandemi Covid-19 datang tanpa diundang dan serta merta dalam sekejap merubah tatanan kehidupan masyarakat dunia termasuk Indonesia. Perubahan tersebut telah memukul telak semua sektor dan hampir melumpuhkan denyut nadi kehidupan. Dampaknya yang luas dan masif begitu terasa. Korban berjatuhan, Bisnis banyak yang ambruk, PHK besar-besaran, sektor pendidikan total berjalan dari rumah, Perkantoran dan Pelayanan Publik terhambat. Perubahan yang signifikan ini telah memunculkan kesulitan baru dalam interaksi, psikososial, ekonomi, kekhawatiran akan ketidakpastian, stres dan manajemen emosi yang tidak terkendali, serta banyak lagi dampak lainnya.


Mari berbicara dengan data, sampai dengan tanggal 17 September 2020, kasus positif Covid-19 bertambah 3.635, total mencapai 232.628 kasus. Pasien sembuh bertambah 2.585 menjadi 166.686 pasien. Kasus meninggal bertambah 122 menjadi 9.222 kasus.

Sementara itu, di sektor usaha tercatat data sampai dengan bulan Mei 2020 PHK sebanyak 1,7 juta pekerja  dan masih ada 1,2 juta pekerja yang masih proses verifikasi. Artinya hampir 3 juta orang kehilangan pekerjaan.

Kita tinggalkan sementara data-data yang menakutkan ini, yang diprediksi masih akan terus bertambah. Bagaimanapun juga, bencana ini harus dihadapi dan direspon dengan bijaksana. Khususnya bagi dunia Pendidikan. Malapetaka besar ini telah menjadikan para Guru dan Siswa terbatasi gerak dan aktivitasnya di rumah. Tingkat kejenuhan yang dirasakan begitu tinggi. Namun hal ini tidak lantas menghentikan upaya-upaya untuk mengatasinya. Beragam cara dan metode dilakukan. Salah satunya pada Mata Pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan di SMK Negeri 1 Garut. Pada Mata Pelajaran ini ada Kompetensi Dasar yang berkaitan dengan Pemasaran Online. Rasanya ada peluang sangat besar dari sini. Bagaimana tidak, Pemasaran Online, Bisnis Online, Digital Marketing, dan istilah-istilah bisnis serupa itu kini sedang begitu “Booming”. Hal ini tentu memunculkan sebuah peluang baru, apalagi ditambah di masa pandemi ini, dimana hampir semua orang tinggal di rumah, sementara kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi.

Berdasarkan laporan terbaru We Are Social, pada tahun 2020 disebutkan bahwa ada 175,4 juta pengguna internet di Indonesia. Jika dibandingkan dengan total populasi Indonesia yang berjumlah 272,1 juta jiwa, maka itu artinya 64% penduduk RI telah merasakan akses ke dunia maya, dengan rentang usia 16 hingga 64 tahun.

Peluang yang sangat besar sekali untuk juga mengaktifkan siswa SMK dalam program Pembelajaran berbasis Proyek Pemasaran Online. Apalagi di rentang usia SMK 15 sampai 17 tahun dimana kebanyakan para remaja ini begitu akrab dengan media sosial. 

Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Sementara itu data lain berdasarkan studi yang dilakukan oleh Facebook dan Bain & Company, jumlah konsumen digital di ASEAN dan Indonesia telah meningkat pesat selama beberapa tahun terakhir. Konsumen digital yang dimaksud dalam studi ini adalah orang-orang yang membeli dan bertransaksi secara online.

Untuk Indonesia sendiri, studi menunjukkan saat ini jumlah konsumen digital sudah mencapai 53% atau setengah dari total populasi Indonesia di tahun 2018,

atau lebih dari setengah orang yang berusia 15 tahun ke atas telah bertransaksi online. Bahkan pada tahun 2025 mendatang, pertumbuhan belanja online di Indonesia diprediksi tumbuh menjadi USD 48 miliar (Rp 657,7 triliun).

Berdasarkan data-data di atas, dan kenyataan bahwa begitu banyak pekerja di PHK yang mungkin banyak diantaranya adalah orangtua dari siswa-siswa SMK ini, maka dirancanglah sebuah Program Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) di bidang Pemasaran Online. Pembelajaran Berbasis Proyek ini bertujuan untuk :

Memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai bagaimana tata kelola pemasaran online. 

Memberikan nuansa baru bagi siswa dalam proses pembelajaran.

Memberikan wadah yang positif yang dapat menampung kegemaran siswa menggunakan media sosial.

Mengajak siswa mampu mengaplikasikan kemampuan yang diperoleh dari pembelajaran klasikal.

Membentuk dan menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreneur.

Mengasah kemampuan bisnis sejak muda.

Mengajak siswa memberikan kontribusi secara ekonomi bagi dirinya sendiri dan keluarga.

Mengajarkan siswa untuk selalu berfikir positif dan kreatif.

Membimbing siswa belajar mengubah kesulitan menjadi peluang.

Mengoptimalkan kerjasama baik di dalam keluarga.


Untuk mencapai tujuan tersebut, langkah-langkah yang ditempuh dalam pembelajaran ini adalah :

Menemukan peluang usaha di masa pandemi

Dalam hal ini para siswa melakukan pengamatan dan menganalisis peluang yang ada, disesuaikan dengan kondisi di sekitarnya, kemampuan yang dimiliki dan peluang pasar.

 Membuat keputusan usaha yang akan dijalani.

Merancang strategi pemasaran.

Membuat akun-akun bisnis Online di berbagai platform.

Merancang konten kreatif dengan berbagai aplikasi sebagai media promosi online.

Melakukan posting dan promosi produk di berbagai akun bisnis online yang sudah dibuat.

Mengelola akun dengan menjaga postingan dan melayani calon konsumen yang berinteraksi.

Melayani transaksi jika terjadi transaksi, dengan pengiriman produk melalui jasa angkutan online.

Mengelola administrasi transaksi.

Mengelola keuangan.

Sementara itu peran Guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek ini adalah sebagai pembimbing, fasilitator, motivator yang memberikan arahan-arahan kepada siswa selama pelaksanaan proyek, juga memantau aktivitas siswa di berbagai akun bisnis online. 

Dari proyek pembelajaran ini muncul begitu banyak peluang usaha yang dapat dikembangkan. Mulai dari ide pembuatan masker, menjual hand sanitizer, beragam produk kesehatan, makanan, minuman, fashion serta jasa untuk antar kebutuhan sehari-hari dan banyak lainnya.

Apa yang sudah dapat diperoleh siswa dari Pembelajaran Proyek ini? 

Dari segi ekonomi, tentu belum banyak yang bisa dihasilkan. Bahkan banyak siswa yang tidak memperoleh nilai transaksi. Namun, pengalaman belajar dan menjalani proses jauh lebih penting. Hal ini diharapkan dapat terus memacu dan mengasah kemampuan, kepercayaan diri dan semangat untuk terus berupaya mengoptimalkan setiap peluang yang ada, membentuk mental-mental tangguh dan tidak mudah menyerah dengan keadaan.


"Jabar Bermasker-Jabar Berbagi Motivasi Kreatif"

"Dibalik Pandemi Corona, Para Siswa SMK Tetap Berkarya"

Ai Yuliansah, S,Pd

Guru Mata Pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan

SMK Negeri 1 Garut


#JabarBermaskerChallenge

#JabarBermaskerChallenge_Blog/Artikel

#KeepCenghar

#JabarSemangatBDR

#Jabar BahagiaBDR

#Sahabattikomdik


#genihandayani

#awangtati

#eka.fighterlife



Kamis, 14 Mei 2020

Kritis VS Nyinyir

Selamat pagi sobat blogger,

Corona semakin merajelala, tiap tempat, tiap negara, tak pandang kasta, tak peduli usia. Siapapun, dimanapun, sangat mungkin tertular virus ini.
Ribuan nyawa di seluruh dunia.
Mengerikan bukan?

Saya bukan ahli per Virusan, dan tidak dalam kapasitas saya membahasnya.
Namun, yang menggelitik saya di saat Corona makin menggila, justru perilaku sebagian orang di sekitar kita, baik kita kenal maupun tidak.

Coba cek, berapa banyak grup WA yang Anda punya? Atau cek akun-akun socmed yang Anda miliki.
Banyak bukan?
Dan apa postingan terbanyak?

Yess,,,,tiba-tiba, di setiap Grup di socmed, muncul para "ahli" dadakan, ahli komen, ahli repost, dengan analisis-analisis luarbiasa, yang kadang lebih banyak menjurus ke hoaks, memelintir informasi yang sesungguhnya, bahkan tak jarang menjurus fitnah dan pencemaran nama baik.

Pernah orang-orang seperti ini di tegur oleh admin grup? Atau oleh sesama member grup?
Tentu pernah, sering bahkan dikeluarkan dari grup
Tapi jawaban atau bantahan, tepatnya alibi mereka atas apa yang mereka lakukan adalah : "kok, orang berusaha kritis malah dilarang-larang, malah dibatasi, malah diintimidasi?"

Hhhhmmm ........

Disinilah letak masalahnya.
Orang sering tidak sadar bagaimana membedakan, memilah dan memilih komentar.
Kritis versi mereka belum tentu seperti yang dimaknai orang lain.

Ada benang merah yang sangat jelas antara sikap kritis dan nyinyir.

Sikap kritis akan ditandai dengan pemahaman dan daya analisis yang tinggi. Seseorang dikatakan kritis, jika sebelumnya dia sudah menempuh langkah-langkah untuk memahami suatu permasalahan, menelaahnya dengan sangat mendalam, membuat simpulan dengan berbagai pertimbangan. Dan yaaa ... Ciri utama yang menjadi pembeda telak antara si kritis dan si nyinyir adalah kemampuan dalam memberikan solusi atas suatu permasalahan berdasarkan hasil telaahnya.

So ... bagaimana dengan si nyinyir?
Hmmmm
Sudah pasti berbanding 180° dari si kritis.
Bagi si nyinyir, yang penting dia bisa ngomong, serang sana serang sini, sindir ini sindir itu, salahkan hal ini salahkan hal itu. Kata-katanya hebat meroket setinggi lain, tapi kosong dari makna. Dan ketika ditanya balik, menurutmu bagaimana atau harus seperti apa???
Maka dapat dipastikan dia akan ngeles dengan beribu argumen, so that why si nyinyir tuh akan identik penggombal, pembual alias omong doang.

Sobat blogger,
Semoga kita tidak termasuk kelompok nyinyir ini ya?
Jika tidak bisa memberikan komentar yang baik, apalagi memberi solusi, diam adalah pilihan yang sangat bijak.

Selamat beraktivitas
Semoga sehat sejahtera bagi kita semua, dan bencana ini segera berlalu.


"15052020"

Rabu, 19 Februari 2020

Akibat Terlalu di Manjakan

Jarum jam pagi ini belumlah menunjukkan jam 6, mendung pun masih menggelayut. Namun, saya harus bergegas pagi ini.
Untuk bekerja?

Bukan

Tapi, berobat di sebuah klinik kesehatan gigi, mengantar anak saya yang mengeluhkan giginya yang terus berdarah.
Antrian nomor 1 pun berhasil didapat, yess, tidak perlu menunggu lama untuk diperiksa.

Sambil melakukan pemeriksaan, Dokter Gigi yang sudah kami kenal ini, asik bercerita.

"Bu, tumben pagi ini Ibu bisa ngantar kesini",

" Iya dok, saya izin dulu sebentar, nanti tetap masuk kerja"

"Salut saya sama Guru, ucap dokter gigi itu. Zaman sekarang, rasanya susah sekali menghadapi murid-murid ya bu? Kalo saya ga akan sanggup bu.

Dan mengalirlah cerita hangat diantara kami, sampai akhirnya dokter ini kemudian tidak segan menceritakan satu kisah pilu dalam keluarganya.

Tentang seorang anak, saudara sepupunya sendiri, yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan teramat sangat dimanjakan. Apapun yang diminta sang anak, selalu dikabulkan orangtua dengan segala daya upaya. Bahkan dengan segala pengorbanan luar biasa dari orangtua, demi sang anak kesayangan.

Sampai disini, ceritanya terdengar menyenangkan ya, punya orangtua seperti ini. Bahagia sekali rasanya.

Namun, akhir kisahnya tak seindah yang saya bayangkan. Dengan mata berkaca-kaca, dokter ini pun mengatakan

"Tau ga bu apa yang terjadi? Sampai anak ini dewasa, dia tak kunjung dewasa, terus dan terus saja menyusahkan orangtuanya dengan segala permintaannya, dan orangtuanya selalu saja mengupayakan dengan segala kemampuannya untuk memenuhi."

Lantas apa balasan sang anak?

"PANTI SOSIAL"

Ya sobat, anak kesayangan, yang begitu dimanjakan, dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, membalas segala pengorbanan orangtuanya dengan memasukannya ke sebuah Panti Sosial.

Tega banget ya???😭
Dan lebih tega lagi, tepatnya sadis dan tak punya lagi hati nurani, orangtua yang sudah renta itu, di titipkan ke Panti Sosial dengan diakui sebagai tetangganya yang terlantar, tidak punya keluarga yang merawat.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Nyesek saya mendengar cerita ini.
Tiba-tiba terbayang, kejadian demi kejadian, dimasa lampau, dan bahkan yang baru saja saya alami beberapa hari lalu. Kok ya banyak sekali kemiripan kisah.
Bagaimana buruknya perilaku seorang anak yang selama hidupnya selalu dimanjakan dan dituruti semua keinginannya.

Tiba-tiba, saya ingin bertanya pada para orangtua yang seperti ini
"Dimanakah akal pertimbangannya, tidakkah mereka berpikir, dengan cara seperti ini, sesungguhnya mereka sudah merusak anak mereka sendiri? Membiarkan mereka masuk terjebak dalam kubangan ketidakmampuan, ketidakberdayaan dalam menghadapi kehidupan, menyebabkan mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak mempunyai rasa tanggungjawab, menjadikan mereka mengambil tindakan tak masuk akal.
Tidakkah para orangtua ini berpikir, bahwa bahu mereka tak selamanya kuat, menanggung semua beban dan terus menerus menanggung rengekan dan keluh kesah kesusahan anaknya, bahkan sampai sang anak dewasa, dan mereka tlah menjadi renta papa.
Apakah tidak terpikir oleh para orangtua yang seperti ini, bahwa satu saat mereka akan tiada, kelak, anak-anaknya hanya akan mendapati diri mereka yang terjerembab dalam bayang kebimbangan, tak mengerti apa yang harus mereka perbuat dalam hidupnya, karena selama ini mereka asik dininabobokan dengan segalanya.

Sungguh benar apa yang Allah Taala firmankan :

"Dan hendaklah merasa takut kepada Allah orang-orang yang apabila mereka meninggalkan di belakangnya keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadapnya, maka hendaklah mereka takut kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lurus".(An-Nisa':10)

Ayat diatas, jelas mengingatkan kepada para orangtua agar mereka waspada, khawatir, jangan-jangan apa yang mereka tanam dalam pendidikan anak-anaknya hanya akan melahirkan anak-anak yang lemah sepeninggal mereka. Lemah dalam hal apa?
Ya, ayat ini sebenarnya menyitir tentang hak anak-anak yatim, yang ditinggalkan dalam keadaan tidak memiliki kemampuan secara finansial.
Namun, jika kita boleh menganalisanya (bukan menafsirkan), keturunan yang lemah disini bisa jadi dalam arti hal akhlak, mental, sikap hidup. Dan kelemahan-kelemahan ini sebagai akibat dari cara orangtua yang tidak tepat dalam memperlakukan anak-anaknya.

Contoh nyata di atas salah satunya.
Dan mungkin banyak lagi contoh-contoh lain, bagaimana buruknya akhir cerita anak-anak yang selalu mendapat perlakuan dimanjakan secara berlebihan oleh orangtuanya, apalagi ketika sang anak berbuat kesalahan, orangtuanya tetap membela dan memberi perlindungan, menolongnya dan menyelamatkannya. Berulang dan berulang seperti itu. Pada akhirnya, sang anak akan kehilangan kemampuan kontrol diri. Dia akan sanggup melakukan tindakan apapun, karena dalam benaknya sudah tertanam kuat, bahwa ada orangtua dibelakangnya. 

Duh .... Ngeri saya membayangkannya, seandainya (amit-amit naudzubillah), kejadian seperti ini menimpa saya atau keluarga saya. 

Tidak

Saya katakan kuat-kuat kepada diri sendiri. Tidak boleh terjadi seperti ini. 

Dan pelajaran pagi ini, dari seorang dokter baik hati, semoga menjadi pengingat bagi siapapun yang berstatus orangtua. 

Terimakasih bu dokter, 


Saya share kisahnya untuk pembelajaran kita semua.

@Klinik apik, 20022020

Sabtu, 15 Februari 2020

Keegoisan Doa


Foto di sebelah ini sebenarnya asal insert saja, tak perlu Anda perhatikan, tapi kalo mau juga silakan 🤓. Foto asal jepret itu buat saya adalah foto yang sangat keren, putra bungsu saya yang belum genap 2 tahun, tiba-tiba minta sajadah dan bilang dengan cadel "nde, abal, nde abal", ada yang tau terjemahannya?😇, kurang lebih dia bilang dia mau shalat, Allohu Akbar. 
Enak ya jadi anak kecil, sesimpel itu dia bisa mengatakannya, padahal kalimatnya bisa jadi panjang kalo orang dewasa yang mengatakannya

Bisa jadi, akan seperti ini :

Duh,,,rasanya hari ini saya pengen sholat yang lama, di mesjid, saya pengen berdoa yang panjang, dan terus berzikir, kok ya rasanya hidup saya ini penuh masalah dan masalah, ga ada henti-hentinya, dari sana sini.

Nah lho ... Ada yang seperti ini???😱
Ada lho
Siapa?
Saya 🙋

Dan ..................

Mungkin juga kebanyakan dari manusia di muka bumi ini, yang hanya ingat kepada Allah Ta'ala ketika dirinya merasa ada masalah, apalagi dengan sebuah dramatisasi hebat, seolah-olah hidup nya lah yang paling menderita.

Berarti kalo begitu, kalo ada masalah, ga usah atau ga boleh berdoa ya???
Lhaaaa ... Bukan itu point nya sobat.
Yang sesungguhnya adalah Allah Ta'ala sudah memberitaukan kepada kita bahwa setiap dari kita pasti akan melewati ujian.

Niscaya kamu akan diuji dalam hartamu dan jiwamu, dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang menyakitkan dari orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan juga dari orang-orang musyrik. Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa maka sesungguhnya hal itu merupakan urusan keteguhan hati.(Ali 'Imran:187)

Untuk apa ujian itu? Tak lain tak bukan adalah cara Allah Ta'ala menempa kesabaran dan keteguhan hati kita. 

Jadi, bagi siapapun Anda yang hidupnya tidak  ingin menghadapi masalah, tidak ingin menghadapi kesulitan, tidak mau ada tantangan, hambatan, kesedihan, kesakitan atau apapun juga yang Anda beri label "masalah", maka bersiap-siaplah untuk menjadi orang yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan hati.

Lantas, kenapa judul tulisan ini " Keegoisan Doa"?

Ya, karena ketika berdoa, kita hanya ingat untuk mengeluh dan meminta, mengeluhkan segala hal tentang hidup kita, meminta segala sesuatu yang kita inginkan, kesehatan, rezeki, anak-anak pintar dan segalanya.

Memangnya tidak boleh seperti itu? Bukankah hanya Allah Ta'ala tempat kita meminta?

Betul sekali, hanya Allah Ta'ala tempat kita meminta, bergantung dan memohon segalanya karena Allah lah yang Maha Segalanya.

Namun, pernahkah dalam doa-doa itu, kita mengucap syukur atas segala nikmat yang Allah Ta'ala sudah berikan dalam hidup kita, bahkan tanpa kita meminta?
Pernahkah dalam doa-doa kita, kita mengakui dengan segala kerendahan hati, segala kesalahan, dosa dan khilaf kita?

Itulah keegoisan doa yang dimaksud, yaitu doa yang hanya dipanjatkan demi keinginan-keinginan pribadi, tanpa mau mengakui betapa lemahnya diri kita, betapa banyaknya dosa kita, betapa masih bertumpuknya keburukan kita, bahkan setelah begitu tidak terhingganya nikmat-nikmat hidup yang kita terima, seolah-olah semua tiada sama sekali dan hanya keluhan masalah yang keluar dari mulut kita.

Bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan dari Allah Ta'ala dalam QS Ar-Rahman ini?

Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua yang kamu dustakan?(Ar-Rahman:17)

Jadi, masihkah kita mengharap hidup yang tanpa masalah? Dan kemudian mengeluhkannya setiap saat, ke setiap orang?
Dan lupa bahwa nikmat Allah Ta'ala jauh lebih banyak dari yang kita minta.

Masihkah kita akan dengan arogannya, mengangkat telunjuk jari dan menuding orang lain atas sebuah kesulitan yang tidak mampu dihadapi?
Gara-gara kamu, jadi begini begini begini, seharusnya kamu begini begini begini, kalo kamu tidak begini pasti kejadiannya tidak seperti ini!!! Bla bla bla bla bla ......

Eh Helloooo ,,,, 
Untuk mereka yang seperti ini, cukup berikan cermin saja, biarkan dia melihat dirinya sendiri dalam cermin itu, betapa jeleknya dia dengan segala keluhannya itu.

Sobat blogger, saya menuliskan ini tidak untuk menggurui siapapun, tapi refleksi atas keadaan diri saya sendiri, yang sering tidak siap ditimpa masalah, kemudian serta merta mengeluhkan segalanya.

Padahal, yang Mulia Rasulullah Saw bersabda:


Sungguh menakjubkan  keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no.2999)


Indah sekali kata-kata Rasulullah Saw. Takdir apapun yang menimpa kita adalah kebaikan.

Jika kita menyadari semua ini, maka tidak akan ada lagi terucap doa-doa yang tanpa diikuti pengakuan atas segala kelemahan kita sebagai manusia. Tidak akan ada lagi ucap keluh kesah berlebihan atas segala musibah dan kesulitan. Tidak akan ada lagi teriak amarah atas ketidakmampuan menyelesaikan sesuatu pekerjaan.

Mudahkah melakukannya???
Tergantung Anda

Bagi saya, memang tidak mudah, ya karena betapa lemahnya diri saya.

Mudah-mudahan tulisan yang sangat jauh dari kata bagus ini, menjadi pengingat bagi diri saya sendiri terutama, dan bagi siapapun yang sedang seperti saya keadaannya.

Selamat pagi, selamat beraktivitas, semoga Ridha Allah Ta'ala menyertai setiap langkah kita.
Aamiin.

"Medio Pebruari 2020"



Senin, 27 Januari 2020

Karena Kata-Kata adalah Doa

Pagi yang selalu seperti ini
Dengan segala hiruk pikuk, drama, dan ketergesa-gesaan.

Masih dengan nafas yang belum lagi teratur dengan benar, peluh yang bercucuran,,,,,,,

Sebuah kalimat pengumuman samar terdengar. 

Deg ..... 
Sejenak nafas tertahan, 
Diam dalam kebingungan

Sejurus kemudian,,,
IT'S OK, tarik nafas dalam dan hadapi semua dengan lapang dan keyakinan.

Pengumuman itu adalah pemberhentian dari tugas lama, dan pemberian tugas baru. Yang kalo boleh jujur, kedua-duanya tidak saya harapkan akan diberikan dipundak saya.
Bahkan saya berdoa dan berdoa agar dibebaskan dari tugas tersebut, karena pada saat ini kondisi kesehatan yang sedang tidak memungkinkan.

Dan .... Doa saya memang terkabul, tugas lama dilepaskan. Namun, saya lupa berdoa dengan lengkap (hehe), tidak berdoa agar tidak diberikan tugas baru lainnya. 

Tapi .... Inilah konsekuensi sebagai abdi negara yang harus saya emban secara ksatria. Siap tidak siap, mau tidak mau, tugas ini akan dan harus saya jalani dengan semaksimal kemampuan yang saya miliki.

Dan ternyata ,,, doa saya pun rupanya salah. 
Seseorang memberikan nasihatnya, berdoalah agar Allah swt menambah, menaikkan derajat dan kapasitas kemampuan kita, bukan meminta sebaliknya.

Pundak yang dirasa tidak akan mampu menopang beban-beban itu, sesungguhnya hanya akan semakin membebani. Tapi ubahlah pola pikirnya, sehingga beban itu menjadi ringan terasa.

Lantas apa yang saya perbuat?

Mundur selangkah ke belakang, berdiam sejenak, ambil jeda beberapa saat.
Daaaan,,, logika pun mulai kembali berjalan normal

Selembar kertas, pulpen, laptop dan lainnya segera begitu bersahabatnya. Coretan-coretan kecil, coretan sederhana, mengalir tertuang dengan begitu naturalnya.
Beban yang tadi terasa begitu menyesakkan perlahan pergi menjauh, berganti sebuah keyakinan bahwa apapun akan bisa dihadapi dan dijalani.

Just Do the Best
Just Do the right thing
Keep Stay on the right way


#bakar semangat diri sendiri, karena menunggu datang pemberi motivasi, hanya akan membuatmu terjebak dalam ketidakpastian.
#ambil langkah terkecil dan tersederhana, namun mampu kau wujudkan
#lakukan sekarang, atau tidak sama sekali
#abaikan cela cemooh atau puji basa basi
#Yang Maha Kuasa tempatmu meminta, untuk segala harap dan asa

@mejakosongku, 28012020


Jumat, 24 Januari 2020

Tips Jitu Halau Galau

IT'S OK 

Entah apa yang merasukiku
Berselimut sepi, tetiba tangan meraih hp dan jari jemari tak dapat ku larang, asik mengetikkan kata demi kata yang menyeruak berkelebat dalam angan.

IT'S OK, inilah kata yang tiba-tiba terucap dan byaarrrr,,,,,,ambyar pun seketika buyar.

IT'S OK, jika kamu sedang sedih
IT'S OK, jika kamu pernah terluka atau melukai
IT'S OK, jika kamu pernah mencintai, dicintai dan sekarang kehilangan
IT'S OK, jika kamu merasa dikhianati, atau mengkhianati
IT'S OK, jika hidupmu tak semanis yang kau impikan
IT'S OK, jika keluargamu tak sesempurna yang kau dambakan
IT'S OK, jika nilai ujianmu sering kacau balau
IT'S OK, jika dirimu tak sehebat yang kau harapkan
IT'S OK, jika rencanamu tak satupun yang mampu kau wujudkan

IT'S OK, IT'S OK .......................

Coba ucapkan kata itu, saat kamu merasa apa yang terjadi tak semestinya terjadi, jika apa yang kau alami bukanlah sesuatu yang kau inginkan.

Kemudian tutup mata, tarik nafas dalam, very deeply ... Again and again. Tetaplah seperti itu, diam dalam hening. Katakan IT'S OK untuk semua hal yang kau alami.

Buka matamu pelaaan sekali
Biarkan bulir-bulir bening menyusuri pipi
Mengaliri relung hati
Biarkan embun-embun hangat itu membersihkan semua luka hati, kecewa dan harapan-harapan hampa

Dan heyyy .... Kamu punya dua tangan, jangan menunggu tangan lain menyekanya.
Segera hapus tetes-tetes bening disudut matamu dengan kedua tanganmu sendiri.

Karena sejatinya, IT'S OK yang kamu ucapkan tadi bukanlah sebuah kepasrahan tanpa arti, tapi dia adalah sebuah janji pada diri, bahwa tak apa dengan semua yang terjadi dan kamu alami, tapi OK aku siap memperbaiki, OK aku mampu berdiri, OK aku akan melakukan semua yang terbaik, OK aku tak kan menangisi yang tak semestinya ku tangisi.

Dan dibalik semua ini, 
Yakini dengan segenap hati
Ada Illahi yang tak kan pernah meninggalkanmu saat kamu terus mendekatkan diri
Teruslah mendekatkan diri, mendekatkan diri
Hingga tak ada lagi duri yang mampu lukai hati, dan batasi langkah kaki
Teruslah mendekatkan diri, mendekatkan diri
Hingga hadir dirimu yang baru
Hadapi hari dengan segala keyakinan diri
Kamu mampu lewati semua ini

Salam Pagi ... 25012020

Senin, 13 Januari 2020

Kuota oh Kuota

Sumber : id.aliexpress.com

Menikmati gambar di atas, yang saya rasakan adalah kesejukan, keheningan, kedamaian, kesegaran, rasa yang nyaman, bahagia, bebas, lepas. 
Adakah sama yang Anda rasakan?

Ya, alam selalu menjadi penyeimbang yang hebat bagi jiwa-jiwa lelah dan gundah. Ditengah terpaan badai kehidupan, tuntutan dunia kerja yang begitu ekstrem, masalah-masalah pribadi, masalah-masalah sosial, masalah-masalah rumah tangga, tuntutan kebutuhan hidup, semua menjadi paduan sempurna untuk menjungkirbalikkan kondisi seseorang dan terjebak dalam kondisi emosi yang tidak terkendali.

Coba bayangkan, sesubuh-subuh fajar belum lagi menyingsing, masing-masing kita sudah terburu-buru bersiap ke tempat bekerja, lupa banyak hal, abaikan segalanya, demi mengejar sesuatu bernama absen online, kuota pun tak pernah luput diperiksa dan selalu terisi full. Cukup sampai disana?
Tidak, rencana kerja, laporan pegawai, hasil evaluasi, penilaian teman sejawat, input data kepegawaian, semua online, semua memakai kuota, dan semua selalu menjadi prioritas perhatian kita.  Lantas, kita kembali ke rumah di sore bahkan malam hari, dengan kelelahan yang luar biasa, dan masih dijejali dengan berbagai pekerjaan. Dan semua kuota oh kuota.

Lalu, pernahkah merenung
Seperti itukah kita berupaya mengisi kuota kita ketika menghadap Allah swt dalam shalat-shalat kita, dalam tilawat-tilawat kita, dalam dzikir-dzikir kita?

Tidak, saya tidak, entah Anda.
Saya lebih banyak melalaikan kuota yang seharusnya saya perhatikan, saya pedulikan dan saya isi full lebih dari apapun.

Maka pantas rasanya, jika diri ini masih dan masih saja diterpa kegundahan, diterpa kegelisahan, kekecewaan, dan keruwetan tiada akhir.
Maka pantas rasanya, jika sampai detik ini, nyaman dan damai itu entah kemana berlalunya.
Maka pantas rasanya, jika hingga saat ini, masih sulit menemukan jati diri sesungguhnya.

Semoga ini menjadi refleksi bagi diri saya sendiri.

Maafkan hambaMu ya Rabb ....


Rumahku, 14012020