Jarum jam pagi ini belumlah menunjukkan jam 6, mendung pun masih menggelayut. Namun, saya harus bergegas pagi ini.
Untuk bekerja?
Bukan
Tapi, berobat di sebuah klinik kesehatan gigi, mengantar anak saya yang mengeluhkan giginya yang terus berdarah.
Antrian nomor 1 pun berhasil didapat, yess, tidak perlu menunggu lama untuk diperiksa.
Sambil melakukan pemeriksaan, Dokter Gigi yang sudah kami kenal ini, asik bercerita.
"Bu, tumben pagi ini Ibu bisa ngantar kesini",
" Iya dok, saya izin dulu sebentar, nanti tetap masuk kerja"
"Salut saya sama Guru, ucap dokter gigi itu. Zaman sekarang, rasanya susah sekali menghadapi murid-murid ya bu? Kalo saya ga akan sanggup bu.
Dan mengalirlah cerita hangat diantara kami, sampai akhirnya dokter ini kemudian tidak segan menceritakan satu kisah pilu dalam keluarganya.
Tentang seorang anak, saudara sepupunya sendiri, yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan teramat sangat dimanjakan. Apapun yang diminta sang anak, selalu dikabulkan orangtua dengan segala daya upaya. Bahkan dengan segala pengorbanan luar biasa dari orangtua, demi sang anak kesayangan.
Sampai disini, ceritanya terdengar menyenangkan ya, punya orangtua seperti ini. Bahagia sekali rasanya.
Namun, akhir kisahnya tak seindah yang saya bayangkan. Dengan mata berkaca-kaca, dokter ini pun mengatakan
"Tau ga bu apa yang terjadi? Sampai anak ini dewasa, dia tak kunjung dewasa, terus dan terus saja menyusahkan orangtuanya dengan segala permintaannya, dan orangtuanya selalu saja mengupayakan dengan segala kemampuannya untuk memenuhi."
Lantas apa balasan sang anak?
"PANTI SOSIAL"
Ya sobat, anak kesayangan, yang begitu dimanjakan, dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, membalas segala pengorbanan orangtuanya dengan memasukannya ke sebuah Panti Sosial.
Tega banget ya???ðŸ˜
Dan lebih tega lagi, tepatnya sadis dan tak punya lagi hati nurani, orangtua yang sudah renta itu, di titipkan ke Panti Sosial dengan diakui sebagai tetangganya yang terlantar, tidak punya keluarga yang merawat.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Nyesek saya mendengar cerita ini.
Tiba-tiba terbayang, kejadian demi kejadian, dimasa lampau, dan bahkan yang baru saja saya alami beberapa hari lalu. Kok ya banyak sekali kemiripan kisah.
Bagaimana buruknya perilaku seorang anak yang selama hidupnya selalu dimanjakan dan dituruti semua keinginannya.
Tiba-tiba, saya ingin bertanya pada para orangtua yang seperti ini
"Dimanakah akal pertimbangannya, tidakkah mereka berpikir, dengan cara seperti ini, sesungguhnya mereka sudah merusak anak mereka sendiri? Membiarkan mereka masuk terjebak dalam kubangan ketidakmampuan, ketidakberdayaan dalam menghadapi kehidupan, menyebabkan mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak mempunyai rasa tanggungjawab, menjadikan mereka mengambil tindakan tak masuk akal.
Tidakkah para orangtua ini berpikir, bahwa bahu mereka tak selamanya kuat, menanggung semua beban dan terus menerus menanggung rengekan dan keluh kesah kesusahan anaknya, bahkan sampai sang anak dewasa, dan mereka tlah menjadi renta papa.
Apakah tidak terpikir oleh para orangtua yang seperti ini, bahwa satu saat mereka akan tiada, kelak, anak-anaknya hanya akan mendapati diri mereka yang terjerembab dalam bayang kebimbangan, tak mengerti apa yang harus mereka perbuat dalam hidupnya, karena selama ini mereka asik dininabobokan dengan segalanya.
Sungguh benar apa yang Allah Taala firmankan :
"Dan hendaklah merasa takut kepada Allah orang-orang yang apabila mereka meninggalkan di belakangnya keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadapnya, maka hendaklah mereka takut kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lurus".(An-Nisa':10)
Ayat diatas, jelas mengingatkan kepada para orangtua agar mereka waspada, khawatir, jangan-jangan apa yang mereka tanam dalam pendidikan anak-anaknya hanya akan melahirkan anak-anak yang lemah sepeninggal mereka. Lemah dalam hal apa?
Ya, ayat ini sebenarnya menyitir tentang hak anak-anak yatim, yang ditinggalkan dalam keadaan tidak memiliki kemampuan secara finansial.
Namun, jika kita boleh menganalisanya (bukan menafsirkan), keturunan yang lemah disini bisa jadi dalam arti hal akhlak, mental, sikap hidup. Dan kelemahan-kelemahan ini sebagai akibat dari cara orangtua yang tidak tepat dalam memperlakukan anak-anaknya.
Contoh nyata di atas salah satunya.
Dan mungkin banyak lagi contoh-contoh lain, bagaimana buruknya akhir cerita anak-anak yang selalu mendapat perlakuan dimanjakan secara berlebihan oleh orangtuanya, apalagi ketika sang anak berbuat kesalahan, orangtuanya tetap membela dan memberi perlindungan, menolongnya dan menyelamatkannya. Berulang dan berulang seperti itu. Pada akhirnya, sang anak akan kehilangan kemampuan kontrol diri. Dia akan sanggup melakukan tindakan apapun, karena dalam benaknya sudah tertanam kuat, bahwa ada orangtua dibelakangnya.
Duh .... Ngeri saya membayangkannya, seandainya (amit-amit naudzubillah), kejadian seperti ini menimpa saya atau keluarga saya.
Tidak
Saya katakan kuat-kuat kepada diri sendiri. Tidak boleh terjadi seperti ini.
Dan pelajaran pagi ini, dari seorang dokter baik hati, semoga menjadi pengingat bagi siapapun yang berstatus orangtua.
Terimakasih bu dokter,
@Klinik apik, 20022020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar