Rabu, 19 Februari 2020

Akibat Terlalu di Manjakan

Jarum jam pagi ini belumlah menunjukkan jam 6, mendung pun masih menggelayut. Namun, saya harus bergegas pagi ini.
Untuk bekerja?

Bukan

Tapi, berobat di sebuah klinik kesehatan gigi, mengantar anak saya yang mengeluhkan giginya yang terus berdarah.
Antrian nomor 1 pun berhasil didapat, yess, tidak perlu menunggu lama untuk diperiksa.

Sambil melakukan pemeriksaan, Dokter Gigi yang sudah kami kenal ini, asik bercerita.

"Bu, tumben pagi ini Ibu bisa ngantar kesini",

" Iya dok, saya izin dulu sebentar, nanti tetap masuk kerja"

"Salut saya sama Guru, ucap dokter gigi itu. Zaman sekarang, rasanya susah sekali menghadapi murid-murid ya bu? Kalo saya ga akan sanggup bu.

Dan mengalirlah cerita hangat diantara kami, sampai akhirnya dokter ini kemudian tidak segan menceritakan satu kisah pilu dalam keluarganya.

Tentang seorang anak, saudara sepupunya sendiri, yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan teramat sangat dimanjakan. Apapun yang diminta sang anak, selalu dikabulkan orangtua dengan segala daya upaya. Bahkan dengan segala pengorbanan luar biasa dari orangtua, demi sang anak kesayangan.

Sampai disini, ceritanya terdengar menyenangkan ya, punya orangtua seperti ini. Bahagia sekali rasanya.

Namun, akhir kisahnya tak seindah yang saya bayangkan. Dengan mata berkaca-kaca, dokter ini pun mengatakan

"Tau ga bu apa yang terjadi? Sampai anak ini dewasa, dia tak kunjung dewasa, terus dan terus saja menyusahkan orangtuanya dengan segala permintaannya, dan orangtuanya selalu saja mengupayakan dengan segala kemampuannya untuk memenuhi."

Lantas apa balasan sang anak?

"PANTI SOSIAL"

Ya sobat, anak kesayangan, yang begitu dimanjakan, dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, membalas segala pengorbanan orangtuanya dengan memasukannya ke sebuah Panti Sosial.

Tega banget ya???😭
Dan lebih tega lagi, tepatnya sadis dan tak punya lagi hati nurani, orangtua yang sudah renta itu, di titipkan ke Panti Sosial dengan diakui sebagai tetangganya yang terlantar, tidak punya keluarga yang merawat.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Nyesek saya mendengar cerita ini.
Tiba-tiba terbayang, kejadian demi kejadian, dimasa lampau, dan bahkan yang baru saja saya alami beberapa hari lalu. Kok ya banyak sekali kemiripan kisah.
Bagaimana buruknya perilaku seorang anak yang selama hidupnya selalu dimanjakan dan dituruti semua keinginannya.

Tiba-tiba, saya ingin bertanya pada para orangtua yang seperti ini
"Dimanakah akal pertimbangannya, tidakkah mereka berpikir, dengan cara seperti ini, sesungguhnya mereka sudah merusak anak mereka sendiri? Membiarkan mereka masuk terjebak dalam kubangan ketidakmampuan, ketidakberdayaan dalam menghadapi kehidupan, menyebabkan mereka tumbuh menjadi manusia yang tidak mempunyai rasa tanggungjawab, menjadikan mereka mengambil tindakan tak masuk akal.
Tidakkah para orangtua ini berpikir, bahwa bahu mereka tak selamanya kuat, menanggung semua beban dan terus menerus menanggung rengekan dan keluh kesah kesusahan anaknya, bahkan sampai sang anak dewasa, dan mereka tlah menjadi renta papa.
Apakah tidak terpikir oleh para orangtua yang seperti ini, bahwa satu saat mereka akan tiada, kelak, anak-anaknya hanya akan mendapati diri mereka yang terjerembab dalam bayang kebimbangan, tak mengerti apa yang harus mereka perbuat dalam hidupnya, karena selama ini mereka asik dininabobokan dengan segalanya.

Sungguh benar apa yang Allah Taala firmankan :

"Dan hendaklah merasa takut kepada Allah orang-orang yang apabila mereka meninggalkan di belakangnya keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadapnya, maka hendaklah mereka takut kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lurus".(An-Nisa':10)

Ayat diatas, jelas mengingatkan kepada para orangtua agar mereka waspada, khawatir, jangan-jangan apa yang mereka tanam dalam pendidikan anak-anaknya hanya akan melahirkan anak-anak yang lemah sepeninggal mereka. Lemah dalam hal apa?
Ya, ayat ini sebenarnya menyitir tentang hak anak-anak yatim, yang ditinggalkan dalam keadaan tidak memiliki kemampuan secara finansial.
Namun, jika kita boleh menganalisanya (bukan menafsirkan), keturunan yang lemah disini bisa jadi dalam arti hal akhlak, mental, sikap hidup. Dan kelemahan-kelemahan ini sebagai akibat dari cara orangtua yang tidak tepat dalam memperlakukan anak-anaknya.

Contoh nyata di atas salah satunya.
Dan mungkin banyak lagi contoh-contoh lain, bagaimana buruknya akhir cerita anak-anak yang selalu mendapat perlakuan dimanjakan secara berlebihan oleh orangtuanya, apalagi ketika sang anak berbuat kesalahan, orangtuanya tetap membela dan memberi perlindungan, menolongnya dan menyelamatkannya. Berulang dan berulang seperti itu. Pada akhirnya, sang anak akan kehilangan kemampuan kontrol diri. Dia akan sanggup melakukan tindakan apapun, karena dalam benaknya sudah tertanam kuat, bahwa ada orangtua dibelakangnya. 

Duh .... Ngeri saya membayangkannya, seandainya (amit-amit naudzubillah), kejadian seperti ini menimpa saya atau keluarga saya. 

Tidak

Saya katakan kuat-kuat kepada diri sendiri. Tidak boleh terjadi seperti ini. 

Dan pelajaran pagi ini, dari seorang dokter baik hati, semoga menjadi pengingat bagi siapapun yang berstatus orangtua. 

Terimakasih bu dokter, 


Saya share kisahnya untuk pembelajaran kita semua.

@Klinik apik, 20022020

Sabtu, 15 Februari 2020

Keegoisan Doa


Foto di sebelah ini sebenarnya asal insert saja, tak perlu Anda perhatikan, tapi kalo mau juga silakan 🤓. Foto asal jepret itu buat saya adalah foto yang sangat keren, putra bungsu saya yang belum genap 2 tahun, tiba-tiba minta sajadah dan bilang dengan cadel "nde, abal, nde abal", ada yang tau terjemahannya?😇, kurang lebih dia bilang dia mau shalat, Allohu Akbar. 
Enak ya jadi anak kecil, sesimpel itu dia bisa mengatakannya, padahal kalimatnya bisa jadi panjang kalo orang dewasa yang mengatakannya

Bisa jadi, akan seperti ini :

Duh,,,rasanya hari ini saya pengen sholat yang lama, di mesjid, saya pengen berdoa yang panjang, dan terus berzikir, kok ya rasanya hidup saya ini penuh masalah dan masalah, ga ada henti-hentinya, dari sana sini.

Nah lho ... Ada yang seperti ini???😱
Ada lho
Siapa?
Saya 🙋

Dan ..................

Mungkin juga kebanyakan dari manusia di muka bumi ini, yang hanya ingat kepada Allah Ta'ala ketika dirinya merasa ada masalah, apalagi dengan sebuah dramatisasi hebat, seolah-olah hidup nya lah yang paling menderita.

Berarti kalo begitu, kalo ada masalah, ga usah atau ga boleh berdoa ya???
Lhaaaa ... Bukan itu point nya sobat.
Yang sesungguhnya adalah Allah Ta'ala sudah memberitaukan kepada kita bahwa setiap dari kita pasti akan melewati ujian.

Niscaya kamu akan diuji dalam hartamu dan jiwamu, dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang menyakitkan dari orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan juga dari orang-orang musyrik. Tetapi jika kamu bersabar dan bertakwa maka sesungguhnya hal itu merupakan urusan keteguhan hati.(Ali 'Imran:187)

Untuk apa ujian itu? Tak lain tak bukan adalah cara Allah Ta'ala menempa kesabaran dan keteguhan hati kita. 

Jadi, bagi siapapun Anda yang hidupnya tidak  ingin menghadapi masalah, tidak ingin menghadapi kesulitan, tidak mau ada tantangan, hambatan, kesedihan, kesakitan atau apapun juga yang Anda beri label "masalah", maka bersiap-siaplah untuk menjadi orang yang tidak memiliki kesabaran dan keteguhan hati.

Lantas, kenapa judul tulisan ini " Keegoisan Doa"?

Ya, karena ketika berdoa, kita hanya ingat untuk mengeluh dan meminta, mengeluhkan segala hal tentang hidup kita, meminta segala sesuatu yang kita inginkan, kesehatan, rezeki, anak-anak pintar dan segalanya.

Memangnya tidak boleh seperti itu? Bukankah hanya Allah Ta'ala tempat kita meminta?

Betul sekali, hanya Allah Ta'ala tempat kita meminta, bergantung dan memohon segalanya karena Allah lah yang Maha Segalanya.

Namun, pernahkah dalam doa-doa itu, kita mengucap syukur atas segala nikmat yang Allah Ta'ala sudah berikan dalam hidup kita, bahkan tanpa kita meminta?
Pernahkah dalam doa-doa kita, kita mengakui dengan segala kerendahan hati, segala kesalahan, dosa dan khilaf kita?

Itulah keegoisan doa yang dimaksud, yaitu doa yang hanya dipanjatkan demi keinginan-keinginan pribadi, tanpa mau mengakui betapa lemahnya diri kita, betapa banyaknya dosa kita, betapa masih bertumpuknya keburukan kita, bahkan setelah begitu tidak terhingganya nikmat-nikmat hidup yang kita terima, seolah-olah semua tiada sama sekali dan hanya keluhan masalah yang keluar dari mulut kita.

Bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan dari Allah Ta'ala dalam QS Ar-Rahman ini?

Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua yang kamu dustakan?(Ar-Rahman:17)

Jadi, masihkah kita mengharap hidup yang tanpa masalah? Dan kemudian mengeluhkannya setiap saat, ke setiap orang?
Dan lupa bahwa nikmat Allah Ta'ala jauh lebih banyak dari yang kita minta.

Masihkah kita akan dengan arogannya, mengangkat telunjuk jari dan menuding orang lain atas sebuah kesulitan yang tidak mampu dihadapi?
Gara-gara kamu, jadi begini begini begini, seharusnya kamu begini begini begini, kalo kamu tidak begini pasti kejadiannya tidak seperti ini!!! Bla bla bla bla bla ......

Eh Helloooo ,,,, 
Untuk mereka yang seperti ini, cukup berikan cermin saja, biarkan dia melihat dirinya sendiri dalam cermin itu, betapa jeleknya dia dengan segala keluhannya itu.

Sobat blogger, saya menuliskan ini tidak untuk menggurui siapapun, tapi refleksi atas keadaan diri saya sendiri, yang sering tidak siap ditimpa masalah, kemudian serta merta mengeluhkan segalanya.

Padahal, yang Mulia Rasulullah Saw bersabda:


Sungguh menakjubkan  keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila dia mengalami kebaikan, dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan, maka dia bersabar dan hal itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no.2999)


Indah sekali kata-kata Rasulullah Saw. Takdir apapun yang menimpa kita adalah kebaikan.

Jika kita menyadari semua ini, maka tidak akan ada lagi terucap doa-doa yang tanpa diikuti pengakuan atas segala kelemahan kita sebagai manusia. Tidak akan ada lagi ucap keluh kesah berlebihan atas segala musibah dan kesulitan. Tidak akan ada lagi teriak amarah atas ketidakmampuan menyelesaikan sesuatu pekerjaan.

Mudahkah melakukannya???
Tergantung Anda

Bagi saya, memang tidak mudah, ya karena betapa lemahnya diri saya.

Mudah-mudahan tulisan yang sangat jauh dari kata bagus ini, menjadi pengingat bagi diri saya sendiri terutama, dan bagi siapapun yang sedang seperti saya keadaannya.

Selamat pagi, selamat beraktivitas, semoga Ridha Allah Ta'ala menyertai setiap langkah kita.
Aamiin.

"Medio Pebruari 2020"