Kok begini?
Padahal saya sudah berbuat baik
Padahal saya sudah memberikan segalanya
Kenapa saya tidak dihargai?
Pernah mengalami kondisi seperti itu?
Pernah mengucapkan kata-kata seperti itu?
Jawaban terjujur : Saya pernah dan menyesalinya, sangat.
Sobat blogger,
Hidup selalu menghadapkan kita pada situasi yang tidak akan pernah selalu sesuai dengan apa yang kita bayangkan, apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan.
Seperti contoh tadi. Ketika seseorang sudah berusaha memberikan segalanya, memberikan yang terbaik, dedikasi tiada henti, bahkan sering mengabaikan kepentingannya sendiri, apakah itu bagi keluarganya, bagi lingkungan kerjanya, bagi sahabat dan handai taulannya.
Namun,,,begitu terhenyaknya dia, ketika mendapati bahwa apa yang dilakukannya, tak dianggap apa-apa, tak berarti apa-apa. Seolah seperti angin menghempas debu, terbang, hilang, tak berbekas, nothing.
Sakit?sedih?merasa tak berguna? Pasti, dan itu akan terasa sangat menyiksa jika ..........kita masih menggantungkan dan membiarkan hati kita, diri kita dikendalikan oleh tindak dan perilaku orang lain.
Namun, jika kita sudah mampu mencapai taraf bahwa go ahead, lakukanlah apa yang mau kalian lakukan, go ahead, ucapkanlah apapun yang mau kalian ucapkan. Karena semua itu sekali-kali tidak akan mampu merubah apalagi merusak hati dan diri saya. Go ahead!
Bisakah kita sampai ditaraf itu?dengan legowo, dengan senyum semurni embun?
Bahkan lebih dalam lagi, kita sampai pada taraf menggantungkan dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT? Bahwa urusan setiap makhluk adalah dengan Rabb-Nya?
Mudahkan sampai di taraf ini?
Bisa ya bisa tidak.
Bagi saya, semua itu membutuhkan sebuah proses perjalanan dan tempaan hebat.
Tak kan didapat dengan satu dua kali kejadian.
Lho kok begitu?
Apakah Allah SWT tidak ingin hamba-Nya menjadi baik?
Tidak!!!
Ketika ikhlasmu diuji, saat itulah Allah SWT hadir untukmu, dan ingin melihatmu naik ke derajat ikhlas lebih tinggi lagi.
Saat ikhlasmu tak dihargai, itulah waktu bagimu, untuk kembali mengingat Rabb-Mu.
Apa yang kamu lakukan, apa yang kamu kerjakan, apa yang kamu berikan, ingat!!!semua bukan karena hebatmu, tapi semata-mata karunia dan kasih sayang Allah Taala bagimu.
Saya menuliskan semua ini, sesungguhnya pengingat bagi diri sendiri, karena ketika ikhlas diuji, sering terlena diri, lupa jaga lisan dan hati, hingga terucap kata yang justru akan mengikis habis nilai baik diri, dan kelak akan disesali.
Selamat malam sobat, semoga esok lebih baik lagi.
"Sudut sunyi kota Intan, 30 Nopember 2019"
Sabtu, 30 November 2019
Kamis, 28 November 2019
Hari Guru Bagi Guru
Terimakasihku Guruku
Empat hari berlalu dari sebuah tanggal yang diabadikan sebagai hari Guru. Tak seperti peringatan hari-hari istimewa lainnya. Hari Guru diperingati dengan sangat sunyi. Hanya ada upacara, pidato Menteri dan berseliwerannnya ucapan selamat hari Guru di sosial media. Dan semua kembali sunyi.
Tiba-tiba, pagi ini... Sebentuk cake cantik, selembar kertas ucapan hari guru, suprise hymne guru yang dinyanyikan para siswa di kelas, benar-benar membuat saya tidak bisa berkata-kata.
Inilah Guru, kami para Guru, tidak pernah mengharapkan balas jasa apapun dari siswa-siswanya.
Ucapan terimakasih dari siswa pun sudah cukup meluluhlantakkan perasaan seorang Guru.
Inilah kami, kami para Guru, hanya berupaya sekuat tenaga, semaksimal kemampuan kami, untuk membangun negeri melalui karya-karya kecil kami, dari ruang kelas, dari bangku-bangku sederhana, dari wajah-wajah polos para siswa, dari coretan-coretan ringan di papan tulis, dari kisah-kisah hebat tentang hidup, dari untaian mimpi yang bersama-sama kita bangun.
Kadang,,,,,semuanya diselingi dengan "kemarahan",
Tidak!!!Guru kalian tidak marah, Guru kalian hanya sedang berusaha memberitahu mana yang benar dan salah.
Inilah kami, kami para Guru, kami yang penuh kekurangan, kealfaan, tapi kami berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didik.
Lihatlah, kemajuan zaman sudah sedemikian pesatnya, kemudahan-kemudahan akses pembelajaran dapat diperoleh hanya dengan jentikan jari saja. Kapan saja, dimana saja.
Tapi sadarkah kita, keberadaan sosok Guru, tidak akan pernah tergantikan oleh kecanggihan teknologi apapun. Sejatinya kemajuan teknologi hanyalah sarana yang harus digunakan untuk membantu mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Bukan untuk menggantikan keberadaan guru, di ruang-ruang guru, di ruang-ruang kelas atau dimanapun tempat belajar.
Semoga momen hari Guru, menjadi tonggak bagi siapapun, untuk kembali mengingat apa peran Guru sebenarnya, bagaimana seharusnya Guru diperlakukan.
Meski sedikit terlambat, Selamat Hari Guru untuk Guru-Guru terbaik di negeri ini
Semoga Allah SWT, selalu membimbing dan menolong dalam mengemban amanah mulia ini. Aamiin.
Empat hari berlalu dari sebuah tanggal yang diabadikan sebagai hari Guru. Tak seperti peringatan hari-hari istimewa lainnya. Hari Guru diperingati dengan sangat sunyi. Hanya ada upacara, pidato Menteri dan berseliwerannnya ucapan selamat hari Guru di sosial media. Dan semua kembali sunyi.
Tiba-tiba, pagi ini... Sebentuk cake cantik, selembar kertas ucapan hari guru, suprise hymne guru yang dinyanyikan para siswa di kelas, benar-benar membuat saya tidak bisa berkata-kata.
Inilah Guru, kami para Guru, tidak pernah mengharapkan balas jasa apapun dari siswa-siswanya.
Ucapan terimakasih dari siswa pun sudah cukup meluluhlantakkan perasaan seorang Guru.
Inilah kami, kami para Guru, hanya berupaya sekuat tenaga, semaksimal kemampuan kami, untuk membangun negeri melalui karya-karya kecil kami, dari ruang kelas, dari bangku-bangku sederhana, dari wajah-wajah polos para siswa, dari coretan-coretan ringan di papan tulis, dari kisah-kisah hebat tentang hidup, dari untaian mimpi yang bersama-sama kita bangun.
Kadang,,,,,semuanya diselingi dengan "kemarahan",
Tidak!!!Guru kalian tidak marah, Guru kalian hanya sedang berusaha memberitahu mana yang benar dan salah.
Inilah kami, kami para Guru, kami yang penuh kekurangan, kealfaan, tapi kami berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didik.
Lihatlah, kemajuan zaman sudah sedemikian pesatnya, kemudahan-kemudahan akses pembelajaran dapat diperoleh hanya dengan jentikan jari saja. Kapan saja, dimana saja.
Tapi sadarkah kita, keberadaan sosok Guru, tidak akan pernah tergantikan oleh kecanggihan teknologi apapun. Sejatinya kemajuan teknologi hanyalah sarana yang harus digunakan untuk membantu mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Bukan untuk menggantikan keberadaan guru, di ruang-ruang guru, di ruang-ruang kelas atau dimanapun tempat belajar.
Semoga momen hari Guru, menjadi tonggak bagi siapapun, untuk kembali mengingat apa peran Guru sebenarnya, bagaimana seharusnya Guru diperlakukan.
Meski sedikit terlambat, Selamat Hari Guru untuk Guru-Guru terbaik di negeri ini
Semoga Allah SWT, selalu membimbing dan menolong dalam mengemban amanah mulia ini. Aamiin.
"Terimakasih anak-anak didikku"
Selasa, 26 November 2019
Perubahan Kecil
Harapan Baru bernama Perubahan Kecil
Di atas adalah kutipan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam menyambut Hari Guru Nasional Tahun 2019. Dalam pidato tersebut, tersirat sebuah harapan yang disematkan ke pundak para Guru di Indonesia. Ya... Pak Menteri menyebutnya dengan perubahan kecil, tapi diakhir pidatonya, ditutup dengan kalimat, jika setiap Guru melakukan perubahan kecil ini, maka kapal besar bernama Indonesia akan bergerak.
Inspiratif pidato yang disampaikan oleh Mendikbud yang baru ini. Sebagaimana beliau menyemai harapan kepada para Guru, para Guru di seantero Nusantara pun tentu menaruh harap pada kepemimpinan beliau. Gaya muda, pengetahuan, pengalaman dan skill yang dimilikinya, diharapkan mampu melahirkan kebijakan-kebijakan yang berdampak signifikan bagi pendidikan di Bumi Indonesia. Perubahan kecil yang diharapkan Mendikbud, InsyaAllah akan disambut dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin oleh para Guru.
Pertanyaannya :
1. Apakah para siswa kita juga siap dengan harapan perubahan kecil ini?
2. Apakah sistem yang dibangun selama ini, mampu memberikan peluang yang memadai untuk terlaksananya perubahan kecil ini?
3. Apakah para pemangku kepentingan aware dengan hal ini?
4. Apakah pola didik di keluarga sudah menciptakan suasana menuju perubahan kecil ini?
5. Apakah masyarakat sudah mampu membangun suasana kehidupan yang mendukung tercapainya perubahan kecil ini?
6. Dan masih banyak pertanyaan lainnya
Kembali ... Harapan perubahan itu digaungkan. Gaungnya menggema, dan mendapat tepukan meriah di berbagai media.
Semoga gaung harapan ini, tidak sekedar retorika, tidak sekedar wacana, tidak sekedar pemanis program kerja belaka.
Para Guru pada prinsipnya akan siap menerima perubahan. Karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Apakah pernah tercatat dalam sejarah bahwa bangsa-bangsa mencapai kemajuan dengan berdiam diri?
TIDAK.
Sesuatu bernama perubahan lah yang mampu menggerakkan kemajuan. Jika perubahan itu mampu disikapi dengan sebaik-baiknya. Tentu akan lahir ketidaknyamanan, sejenak, karena terbiasa dengan zona nyaman yang meninabobokan. Namun, sampai kapan akan berdiam dan bersembunyi di zona nyaman?
Boleh saja sih seperti itu.
Tapi yakinlah, bahwa memutuskan untuk tetap tiarap di zona nyaman, hanya akan membuat kita terlindas kemajuan yang tidak dapat dibendung.
Siapkah kita hanya jadi penonton dibalik kemajuan peradaban?
Siapkah kita terpaksa harus bertepuk tangan dan menyalami keberhasilan orang lain
Siapkah kita meneruskan hidup dalam penyesalan, seandainya saya dulu berubah, seandainya saya tidak berdiam diri, seandainya saya mau belajar dan seandainya seandainya lain.
Mari sambut harapan baru, dengan perubahan kecil, dimulai dari diri sendiri, dimulai dari sekarang. Onak duri pasti akan dihadapi. Tidak ada yang mudah untuk memulai sesuatu yang baru, dan tangga ke 100 bernama sukses, akan dimulai dari pijakan pada anak tangga pertama.
Selamat berkarya untuk para Guru seluruh Indonesia.
Salam sukses
Di atas adalah kutipan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam menyambut Hari Guru Nasional Tahun 2019. Dalam pidato tersebut, tersirat sebuah harapan yang disematkan ke pundak para Guru di Indonesia. Ya... Pak Menteri menyebutnya dengan perubahan kecil, tapi diakhir pidatonya, ditutup dengan kalimat, jika setiap Guru melakukan perubahan kecil ini, maka kapal besar bernama Indonesia akan bergerak.
Inspiratif pidato yang disampaikan oleh Mendikbud yang baru ini. Sebagaimana beliau menyemai harapan kepada para Guru, para Guru di seantero Nusantara pun tentu menaruh harap pada kepemimpinan beliau. Gaya muda, pengetahuan, pengalaman dan skill yang dimilikinya, diharapkan mampu melahirkan kebijakan-kebijakan yang berdampak signifikan bagi pendidikan di Bumi Indonesia. Perubahan kecil yang diharapkan Mendikbud, InsyaAllah akan disambut dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin oleh para Guru.
Pertanyaannya :
1. Apakah para siswa kita juga siap dengan harapan perubahan kecil ini?
2. Apakah sistem yang dibangun selama ini, mampu memberikan peluang yang memadai untuk terlaksananya perubahan kecil ini?
3. Apakah para pemangku kepentingan aware dengan hal ini?
4. Apakah pola didik di keluarga sudah menciptakan suasana menuju perubahan kecil ini?
5. Apakah masyarakat sudah mampu membangun suasana kehidupan yang mendukung tercapainya perubahan kecil ini?
6. Dan masih banyak pertanyaan lainnya
Kembali ... Harapan perubahan itu digaungkan. Gaungnya menggema, dan mendapat tepukan meriah di berbagai media.
Semoga gaung harapan ini, tidak sekedar retorika, tidak sekedar wacana, tidak sekedar pemanis program kerja belaka.
Para Guru pada prinsipnya akan siap menerima perubahan. Karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Apakah pernah tercatat dalam sejarah bahwa bangsa-bangsa mencapai kemajuan dengan berdiam diri?
TIDAK.
Sesuatu bernama perubahan lah yang mampu menggerakkan kemajuan. Jika perubahan itu mampu disikapi dengan sebaik-baiknya. Tentu akan lahir ketidaknyamanan, sejenak, karena terbiasa dengan zona nyaman yang meninabobokan. Namun, sampai kapan akan berdiam dan bersembunyi di zona nyaman?
Boleh saja sih seperti itu.
Tapi yakinlah, bahwa memutuskan untuk tetap tiarap di zona nyaman, hanya akan membuat kita terlindas kemajuan yang tidak dapat dibendung.
Siapkah kita hanya jadi penonton dibalik kemajuan peradaban?
Siapkah kita terpaksa harus bertepuk tangan dan menyalami keberhasilan orang lain
Siapkah kita meneruskan hidup dalam penyesalan, seandainya saya dulu berubah, seandainya saya tidak berdiam diri, seandainya saya mau belajar dan seandainya seandainya lain.
Mari sambut harapan baru, dengan perubahan kecil, dimulai dari diri sendiri, dimulai dari sekarang. Onak duri pasti akan dihadapi. Tidak ada yang mudah untuk memulai sesuatu yang baru, dan tangga ke 100 bernama sukses, akan dimulai dari pijakan pada anak tangga pertama.
Selamat berkarya untuk para Guru seluruh Indonesia.
Salam sukses
Tips Jitu Siasati Padatnya Jadwal Ujian
Anak Sekolahan VS Ujian
Judulnya rada-rada serem ya??? Seolah-seolah anak sekolahan akan bertarung melawan ujian๐✊.
Santuuyyy ajah ... Begitu anak-anak milenial mengatakannya.
Ya, kalian yang sampai saat ini masih menyandang status siswa atau mahasiswa, mau tidak mau, suka tidak suka akan menghadapi moment ini. 99% tidak ada yang menyukainya, betul? Apalagi kalian yang tidak memiliki kesiapan sedikitpun. Ujian-ujian ini akan jadi nightmare nya kalian!!!
So guys,,,biar kalian tetap bisa santuy menghadapi berbagai ujian di sekolahan atau di kampus, yuks simak dan praktekan tips berikut :
1. Jaga kesehatan jasmani dan rohani
Kalo kalian ga sehat secara fisik, gimana bisa siap menghadapi ujian, iya kan? Boro-boro mikirin jawaban soal-soal ujian, ngerasain sakit aja udah ga karuan.
Apalagi kalo yang tidak sehat nya rohani kita, artinya secara psikis kita tidak siap, tidak yakin, tidak memiliki optimisme, mentalnya hanya siap untuk bertanya, nyontek dan sejenisnya. Waaahhh berabe ini mah!
2. Berdoa dengan kesungguhan hati
Yakinlah Allah SWT, tempat kalian menggantungkan segala harapan, tempat memohon segala keperluan dan keinginan
3. Meminta doa restu orangtua
Guys, jangan pernah sepelekan doa orangtua kalian ya. Doa mereka adalah penerang bagi hidup kalian. Doa mereka adalah penguat saat lemahnya kalian, doa mereka tak tergantikan oleh apapun.
4. Belajar dengan sungguh-sungguh
Pelajari materi-materi yang akan di ujian kan dengan sepenuh hati. Gimana hp? Chat? Kongkow2 bareng teman? Boleh kok, selama kalian masih tetap bisa membagi waktu.
5. Bikin grup belajar
Jika belajar sendiri dirasa kurang mantap, yuk ajak 2 atau 3 orang teman yang kalian percaya bisa diajak belajar bersama. Jangan banyak-banyak yaaa grup nya, yang ada bukan belajar, tapi ngupi2, nggosip dan canda sana sini. Belajarnya?? Bye bye deh ...
6. Time management
Atur waktu dengan sangat baik. Untuk ibadah, belajar, istirahat, jalan bareng teman, kumpul keluarga. Jika benar2 waktu yang ada benar2 sempit, yaaa pilih beberapa agenda yang mau tidak mau harus terkorbankan sementara waktu. Sementara lho yaaa ... Kan ujian nya juga ga tiap hari, hehe.
7. Pupuk kepercayaan diri, motivasi berprestasi
Yakinlah, kalian punya kemampuan yang bisa dioptimalkan jika kalian mau.
Tanamkan dalam hati, saya bisa, saya mampu, saya siap berprestasi, dan membanggakan diri kalian sendiri, memberikan kebanggaan bagi orangtua yang tiada henti mendukung kalian, membanggakan siapapun yang ada dalam hidup kalian.
Jujurlah selama menjalani ujian. Jujur jujur dan jujur.
Terakhir ...... Yakinlah, kalian adalah generasi hebat!!!!
Salam sukses !
Sudut Kota Intan, 26 November 2019
Judulnya rada-rada serem ya??? Seolah-seolah anak sekolahan akan bertarung melawan ujian๐✊.
Santuuyyy ajah ... Begitu anak-anak milenial mengatakannya.
Ya, kalian yang sampai saat ini masih menyandang status siswa atau mahasiswa, mau tidak mau, suka tidak suka akan menghadapi moment ini. 99% tidak ada yang menyukainya, betul? Apalagi kalian yang tidak memiliki kesiapan sedikitpun. Ujian-ujian ini akan jadi nightmare nya kalian!!!
So guys,,,biar kalian tetap bisa santuy menghadapi berbagai ujian di sekolahan atau di kampus, yuks simak dan praktekan tips berikut :
1. Jaga kesehatan jasmani dan rohani
Kalo kalian ga sehat secara fisik, gimana bisa siap menghadapi ujian, iya kan? Boro-boro mikirin jawaban soal-soal ujian, ngerasain sakit aja udah ga karuan.
Apalagi kalo yang tidak sehat nya rohani kita, artinya secara psikis kita tidak siap, tidak yakin, tidak memiliki optimisme, mentalnya hanya siap untuk bertanya, nyontek dan sejenisnya. Waaahhh berabe ini mah!
2. Berdoa dengan kesungguhan hati
Yakinlah Allah SWT, tempat kalian menggantungkan segala harapan, tempat memohon segala keperluan dan keinginan
3. Meminta doa restu orangtua
Guys, jangan pernah sepelekan doa orangtua kalian ya. Doa mereka adalah penerang bagi hidup kalian. Doa mereka adalah penguat saat lemahnya kalian, doa mereka tak tergantikan oleh apapun.
4. Belajar dengan sungguh-sungguh
Pelajari materi-materi yang akan di ujian kan dengan sepenuh hati. Gimana hp? Chat? Kongkow2 bareng teman? Boleh kok, selama kalian masih tetap bisa membagi waktu.
5. Bikin grup belajar
Jika belajar sendiri dirasa kurang mantap, yuk ajak 2 atau 3 orang teman yang kalian percaya bisa diajak belajar bersama. Jangan banyak-banyak yaaa grup nya, yang ada bukan belajar, tapi ngupi2, nggosip dan canda sana sini. Belajarnya?? Bye bye deh ...
6. Time management
Atur waktu dengan sangat baik. Untuk ibadah, belajar, istirahat, jalan bareng teman, kumpul keluarga. Jika benar2 waktu yang ada benar2 sempit, yaaa pilih beberapa agenda yang mau tidak mau harus terkorbankan sementara waktu. Sementara lho yaaa ... Kan ujian nya juga ga tiap hari, hehe.
7. Pupuk kepercayaan diri, motivasi berprestasi
Yakinlah, kalian punya kemampuan yang bisa dioptimalkan jika kalian mau.
Tanamkan dalam hati, saya bisa, saya mampu, saya siap berprestasi, dan membanggakan diri kalian sendiri, memberikan kebanggaan bagi orangtua yang tiada henti mendukung kalian, membanggakan siapapun yang ada dalam hidup kalian.
Jujurlah selama menjalani ujian. Jujur jujur dan jujur.
Terakhir ...... Yakinlah, kalian adalah generasi hebat!!!!
Salam sukses !
Sudut Kota Intan, 26 November 2019
Simalakama
Simalakama
Kata ini pasti sering Anda dengar, iya kan? (Saya anggukan kepala, mudah-mudahan Anda pun meng "iya" kan ๐).
Rasanya tidak perlu saya terangkan apa itu simalakama, karena saya sendiri tidak pernah tau, tidak pernah melihat, apalagi memakan buah bernama simalakama itu.
Tapi ... Merasakannya sering, hehe
Nah lho ... Kok bisa?
Ya bisa, ketika suatu saat, atau pada banyak keadaan, kita dihadapkan pada sebuah kenyataan dan pilihan yang teramat sulit, dan pilihan-pilihan tersebut sama-sama memberikan konsekuensi yang tidak mudah dihadapi dan dijalani (nah nah nah ... Kok kayak berat gini nih bahasannya?)
Sobat blogger, jika situasi ini sekarang sedang Anda hadapi, apa yang akan Anda lakukan?
(Boleh dong bocorannya), karena saat ini, sejatinya tulisan ini lahir karena buah bernama simalakama.
Tanya punya tanya, selidik sana sini, merenung dan berpikir sedalam-dalamnya, sebuah kata yang jadi resep mujarab pun ditemukanlah, "pasrahkan segala perkara kepada Allah SWT".
Menemukan kalimat ini, rasanya jauh lebih plong, meskipun situasi berat ini belum menemukan jalannya. Tapi keyakinan bahwa Allah SWT lah awal dan muara dari segala urusan, telah membuat beban pikiran dan banyak kata " Jika begini, jika begitu, takut seperti itu, bagaimana kalau" dan tanya-tanya kekhawatiran lainnya yang sesungguhnya hanya angan-angan kita, hilang lenyap sudah.
Apapun yang terjadi, apapun yang akan dihadapi, apapun yang akan diputuskan, semua dikembalikan kepada sang Empunya nafas kehidupan kita, "LillaahiTa'ala".
Semoga disetiap langkah kaki, disetiap helaan nafas, pertolongan Allah Ta'ala senantiasa menyertai.
Kini, setelah keyakinan ini digenggam kuat-kuat, dibingkai indah dalam hati sanubari, masihkah kita akan menyalahkan buah yang tidak jelas bentuk, rasa dan keberadaannya itu? Tentu tidak sobat. "Simalakama" biarlah hanya menjadi sebuah kata semata. Yang tidak akan mempengaruhi apalagi mengacaukan hidup kita.
Selamat tinggal simalakama, kaki ini kini akan bersiap untuk sebuah petualangan baru dalam hidup
Kelak, cerita serunya akan sobat baca disini.
Senja Kota Intan, 26 November 2019
Kata ini pasti sering Anda dengar, iya kan? (Saya anggukan kepala, mudah-mudahan Anda pun meng "iya" kan ๐).
Rasanya tidak perlu saya terangkan apa itu simalakama, karena saya sendiri tidak pernah tau, tidak pernah melihat, apalagi memakan buah bernama simalakama itu.
Tapi ... Merasakannya sering, hehe
Nah lho ... Kok bisa?
Ya bisa, ketika suatu saat, atau pada banyak keadaan, kita dihadapkan pada sebuah kenyataan dan pilihan yang teramat sulit, dan pilihan-pilihan tersebut sama-sama memberikan konsekuensi yang tidak mudah dihadapi dan dijalani (nah nah nah ... Kok kayak berat gini nih bahasannya?)
Sobat blogger, jika situasi ini sekarang sedang Anda hadapi, apa yang akan Anda lakukan?
(Boleh dong bocorannya), karena saat ini, sejatinya tulisan ini lahir karena buah bernama simalakama.
Tanya punya tanya, selidik sana sini, merenung dan berpikir sedalam-dalamnya, sebuah kata yang jadi resep mujarab pun ditemukanlah, "pasrahkan segala perkara kepada Allah SWT".
Menemukan kalimat ini, rasanya jauh lebih plong, meskipun situasi berat ini belum menemukan jalannya. Tapi keyakinan bahwa Allah SWT lah awal dan muara dari segala urusan, telah membuat beban pikiran dan banyak kata " Jika begini, jika begitu, takut seperti itu, bagaimana kalau" dan tanya-tanya kekhawatiran lainnya yang sesungguhnya hanya angan-angan kita, hilang lenyap sudah.
Apapun yang terjadi, apapun yang akan dihadapi, apapun yang akan diputuskan, semua dikembalikan kepada sang Empunya nafas kehidupan kita, "LillaahiTa'ala".
Semoga disetiap langkah kaki, disetiap helaan nafas, pertolongan Allah Ta'ala senantiasa menyertai.
Kini, setelah keyakinan ini digenggam kuat-kuat, dibingkai indah dalam hati sanubari, masihkah kita akan menyalahkan buah yang tidak jelas bentuk, rasa dan keberadaannya itu? Tentu tidak sobat. "Simalakama" biarlah hanya menjadi sebuah kata semata. Yang tidak akan mempengaruhi apalagi mengacaukan hidup kita.
Selamat tinggal simalakama, kaki ini kini akan bersiap untuk sebuah petualangan baru dalam hidup
Kelak, cerita serunya akan sobat baca disini.
Senja Kota Intan, 26 November 2019
Langganan:
Postingan (Atom)


