Aroma Rumah Sakit, kini sudah mulai akrab di penciuman saya. Karena apa?
Berpuluh kali sudah saya harus menjalani rawat inap, berpuluh kali juga bolak balik untuk rawat jalan. Karena suatu penyakit, mau tidak mau, saya jalani semua pengobatan yang menyakitkan itu. Tusukan jarum demi jarum, sudah tak membuat takut, sudah hampir tak terasa sakit. Jika nadi-nadi ini bisa bicara, mereka akan kebingungan sudah berapa banyak jarum yang melukai mereka.
Padahal .... Konon dahulu kala, semasa kanak-kanak, kata orangtua saya, jika sakit dan dibawa ke dokter, atau pernah ada petugas kesehatan yang ke rumah untuk mengobati, saya pasti akan melarikan diri dan sembunyi dimanapun bisa. Pokoknya tidak ketemu dokter apalagi harus di suntik. Jika tidak berhasil sembunyi maka saya akan menangis sejadi-jadinya, sampai si dokter tak kuasa untuk memberikan suntikan, dan hanya memberikan obat saja🙈. Alih-alih di minum, obat-obat itu pun seringnya melayang ke tempat sampah, tanpa ada yang tau. Kecuali, orangtua yang langsung memberikannya, terpaksa obat-obat itupun harus ditelan.
Dan kini, cerita masa kecil itu tak lagi mungkin saya perbuat. Selain malu pastinya, hehe
kondisi kesehatan saya yang memang kurang baik, mengharuskan saya menjalani beberapa pengobatan.
Pernah muncul rasa kecewa, kenapa sih dari kecil saya sering sakit? Kenapa sih ga kayak orang-orang lain?
Lelah rasanya dengan beragam suntikan dan bermacam-macam obat yang harus dikonsumsi.
Namun ...
Nasehat baik itu datang menghampiri
Dari sebuah buku, dari obrolan bersama orang lain, saya pada akhirnya harus bersyukur.
Di luar sana, diberbagai sudut dunia, teramat banyak orang yang menderita sakit yang lebih, dan belum tentu mereka mampu mendapatkan pengobatan yang layak.
Bersyukur, karena dengan sakit, saya lebih berhati-hati menjalani hidup.
Saya lebih menghargai tiap detik yang Allah Taala karuniakan.
Dan satu keyakinan pasti, bahwa Allah Taala tidak semata-mata memberikan ujian sakit ini jika saya tidak mampu memikulnya.
Dari sakit inilah saya belajar tentang sabar, tentang ikhlas, tentang pasrah, tentang menghargai, tentang memahami.
Pamulang, 18 Desember 2019
Nasehat baik itu datang menghampiri
Dari sebuah buku, dari obrolan bersama orang lain, saya pada akhirnya harus bersyukur.
Di luar sana, diberbagai sudut dunia, teramat banyak orang yang menderita sakit yang lebih, dan belum tentu mereka mampu mendapatkan pengobatan yang layak.
Bersyukur, karena dengan sakit, saya lebih berhati-hati menjalani hidup.
Saya lebih menghargai tiap detik yang Allah Taala karuniakan.
Dan satu keyakinan pasti, bahwa Allah Taala tidak semata-mata memberikan ujian sakit ini jika saya tidak mampu memikulnya.
Dari sakit inilah saya belajar tentang sabar, tentang ikhlas, tentang pasrah, tentang menghargai, tentang memahami.
Pamulang, 18 Desember 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar