Apa yang dimaksud dengan sifat dan sikap keakuan?
Jika diamati dari ilustrasi di atas, keakuan adalah sifat yang menunjukkan rasa yang berpusat pada aku (diri sendiri), sifat yang mementingkan diri sendiri, sifat yang merasa bahwa dirinya pusat segalanya. Jika sifat ini diperlihatkan, ditampakkan, maka jadilah sikap keakuan.
Seseorang dengan sifat dan sikap keakuan, biasanya akan muncul dengan pembawaan yang selalu merasa benar, merasa pintar, merasa sudah bisa, sudah mampu.
Dari sisi positifnya, kita bisa menerima orang-orang seperti ini sebagai orang yang penuh percaya diri, antusias, bersemangat, powerfull.
Tapi, sisi negatifnya, sifat egoisme mengancam diri mereka yang memiliki keakuan ini.
Coba flashback sejenak,
Banyak kejadian di negeri ini, yang mencuat semata-mata karena sikap keakuan, dari beberapa gelintir oknum, apakah dia politikus, tokoh agama, kaum intelektual atau masyarakat awam.
Dan mari renungkan akhir kesudahannya????
Hampir tidak ada kebaikan yang diperoleh. Hanya tumpukan kehancuran, kerusakan, kemalangan. Yang tentu saja, semakin menambah panjang beban pembenahan negeri ini.
Celakanya,
Sifat dan sikap keakuan ini, disadari atau tidak, ada pada setiap diri manusia.
Hanya saja, ada orang yang mampu mengendalikan dan menempatkan keakuannya dengan proporsional, dan ada yang kebablasan.
Walhasil, mereka yang sukses akan tampil dalam wujud-wujud bijaksana, dari tutur kata, tingkah laku, pemikiran, tindakan dan keputusan-keputusan yang diambilnya.
Sebaliknya, mereka yang gagal mengendalikan dan menempatkan keakuannya, akan lahir menjadi pribadi-pribadi egois, semau gue, saya paling benar, saya paling bisa, saya paling pintar. Dari sinilah awal tertutupnya pintu kebijaksanaan.
Bagi mereka yang menempatkan keakuan diatas segalanya, akan sangat sulit membuka diri menerima nasihat, saran, masukan, pendapat, argumen, apalagi kritikan atas dirinya.
Apapun yang orang lain sampaikan akan salah di pandangannya. Terlebih, jika yang menyampaikannya adalah orang yang lebih muda, dianggap anak kemaren sore, bawahan rendahan. Jangan harap akan digubris. Semua lewat bak angin lalu.
Padahal, tidak ada jaminan bahwa dia yang lebih tua, pasti lebih bijaksana, tidak pernah ada garansi bahwa atasan akan selalu benar dibanding bawahannya, penguasa akan selalu hebat dibanding rakyatnya.
Sobat blogger,,,
Fenomena ini nyata ada dalam keseharian kita. Mulai dari lingkup terkecil, dari dalam rumah kita, lingkungan tetangga, organisasi, bahkan sampai lingkup kehidupan negara dan dunia.
Lantas, apa yang bisa kita perbuat?
Dimulai dari diri sendiri
Dimulai dari hal terkecil
Dimulai dari sekarang
Belajarlah untuk membuka pintu kebijaksanaan diri dengan merendahkan diri. Merendahkan diri, tak akan membuat kita hina. Merendahkan diri tak berarti kehilangan harga diri. Merendahkan diri hanyalah satu cara sederhana, menekan keakuan dalam diri. Tapi disisi lain, tetap mampu memberikan yang terbaik.
Selamat sore,
Semoga di negeri ini lahir semakin banyak tokoh-tokoh bijaksana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar